BANYUWANGI – Tren pariwisata berbasis desa semakin menguat pada 2026, dengan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, tampil sebagai salah satu daerah yang konsisten mengembangkan desa wisata berbasis budaya, alam, dan ekonomi lokal. Sejumlah desa wisata di daerah ini menawarkan pengalaman autentik dengan biaya terjangkau sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Perkembangan tersebut ditopang oleh integrasi antara pelestarian budaya lokal dan modernisasi akses wisata. Berdasarkan data sektor pariwisata, peningkatan kunjungan wisatawan di Banyuwangi mencapai sekitar 30 persen pada awal 2026, didorong tren wisata berkelanjutan atau sustainable tourism.
Sejumlah desa wisata unggulan pun menjadi pilihan utama wisatawan. Desa Wisata Osing Kemiren di Kecamatan Glagah, misalnya, dikenal sebagai pusat budaya Suku Osing yang masih mempertahankan tradisi sejak era Majapahit. Pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan seni seperti Barong dan Gandrung, serta merasakan kehidupan masyarakat lokal melalui homestay dan aktivitas budaya.
Selain itu, Desa Wisata Bangsring di Kecamatan Wongsorejo menawarkan konsep ekowisata bahari melalui Bangsring Underwater. Destinasi ini menghadirkan pengalaman snorkeling dan edukasi konservasi terumbu karang yang dikelola langsung oleh nelayan setempat, sekaligus menjadi contoh transformasi desa berbasis lingkungan.
Di sisi lain, Desa Wisata Bumiharjo di Kecamatan Glenmore mengandalkan potensi alam melalui kawasan Bumi Madukara yang menyajikan pemandian air alami, hutan pinus, dan lanskap persawahan. Desa ini juga mengembangkan wisata spiritual di Petirtan Beji Gumuk Kancil yang memiliki nilai historis dan budaya.
Kawasan lain yang turut memperkaya destinasi adalah Taman Gandrung Terakota di Desa Tamansari, Kecamatan Licin. Tempat ini menampilkan ribuan patung penari Gandrung di tengah persawahan, lengkap dengan panggung seni terbuka yang rutin menggelar pertunjukan budaya.
Sementara itu, Desa Wisata Pancer di Kecamatan Pesanggaran berkembang sebagai destinasi wisata bahari dengan daya tarik pantai, kuliner laut, serta aktivitas selancar di kawasan Pulau Merah. Desa ini juga menawarkan suasana yang lebih tenang dibandingkan destinasi pantai populer lainnya.
Keberhasilan pengembangan desa wisata di Banyuwangi tidak terlepas dari dukungan kebijakan pemerintah daerah serta pengakuan internasional. Kabupaten ini diketahui pernah mendapatkan apresiasi dari World Tourism Organization (UNWTO) atas inovasi tata kelola pariwisata, serta masuk dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
Model pariwisata berbasis desa tersebut dinilai mampu meningkatkan pendapatan masyarakat melalui keterlibatan langsung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus menjaga kelestarian budaya dan lingkungan. Hal ini sebagaimana diberitakan Pikiran Rakyat Jatim, Jumat, (17/4/2026).
Dengan biaya wisata yang relatif terjangkau serta pengalaman yang lebih mendalam, desa wisata di Banyuwangi kini tidak hanya menjadi alternatif, tetapi juga pilihan utama bagi wisatawan yang menginginkan perjalanan bermakna. Ke depan, pengembangan berkelanjutan diharapkan mampu memperkuat posisi Banyuwangi sebagai rujukan nasional dalam pariwisata berbasis komunitas. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara