Warga Suro Baru Bertahan di Tengah Banjir Berulang

KEPAHIANG – Banjir kembali merendam Desa Suro Baru, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut pada Jumat, 3 April 2026. Sedikitnya 15 rumah warga terdampak, sementara akses jalan utama ikut tergenang hingga mengganggu aktivitas masyarakat.

Genangan air dilaporkan mencapai setinggi lutut orang dewasa di badan jalan, bahkan lebih tinggi saat masuk ke dalam rumah warga. Kondisi ini memperparah dampak banjir yang disebut telah berulang sejak beberapa tahun terakhir.

Kepala Dusun Desa Suro Baru, Jaka Anugrah, mengungkapkan bahwa wilayahnya memang menjadi langganan banjir setiap kali hujan deras turun dalam durasi lama. “Diukur dari tinggi jalan itu selutut orang dewasa, kalau diukur dari rumah warga lebih dari itu,” ucap Jaka.

Ia menyebutkan, sedikitnya 15 rumah di Dusun I dan II telah melaporkan terdampak banjir. “Khusus warga Dusun satu dan dua Desa Suro Baru ini ada sekitar 15 rumah yang terdampak sudah melapor dan terdampak juga,” ungkapnya.

Selain merendam permukiman, banjir juga menggenangi jalan desa sehingga menghambat mobilitas warga dan pengendara. “Banjir ini juga menggenang jalan, menghambat aktivitas pengendara yang melintas karena jalan sudah tertutup air dan dapat mengakibatkan kecelakaan,” jelas Jaka.

Kerusakan infrastruktur dan fasilitas rumah tangga turut terjadi akibat banjir tersebut. Sejumlah warga melaporkan kerusakan pada toilet, pergeseran pondasi rumah, hingga jebolnya kolam ikan. “Banyak ini ada yang WC-nya jebol, ada tiang pondasinya bergeser, kolamnya jebol, barang-barang yang hanyut,” bebernya.

Dampak lain yang dirasakan warga adalah terganggunya akses air bersih. Sumur yang terendam banjir tidak dapat digunakan sementara waktu. “Banyak warga yang mengeluhkan sumur mereka tidak bisa dipakai karena kotor terendam banjir, butuh waktu sekitar sebulan untuk dapat kembali digunakan,” jelasnya.

Akibat kondisi tersebut, warga terpaksa mengambil air dari rumah lain yang telah menggunakan layanan Perusahaan Air Minum (PAM). “Sehingga menghadapi hal tersebut warga terpaksa mengangkut air dari rumah warga yang sudah menggunakan air PAM,” kata Jaka.

Ia menambahkan, banjir telah terjadi berulang sejak 2015, namun hingga kini belum ada solusi permanen yang mampu mengatasi persoalan tersebut. Berbagai upaya swadaya telah dilakukan warga bersama pemerintah desa, mulai dari gotong royong hingga menyuarakan kondisi melalui media.

“Upaya yang sudah kami lakukan yakni memviralkan dan gotong-royong membereskan serta membersihkan sampah,” pungkasnya.

Warga berharap adanya penanganan serius dari pemerintah daerah agar banjir tidak terus berulang dan menimbulkan kerugian yang lebih besar di masa mendatang. “Harapan kami ke depan minta ada respon dari pihak terkait membantu memberikan solusi dengan masalah kami supaya tidak banjir lagi,” harap Jaka. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

KLH Apresiasi Program Sampah Desa di Karanganyar

PDF 📄KARANGANYAR – Penguatan pengelolaan sampah dari tingkat desa menjadi sorotan utama dalam kunjungan Kementerian …

Cegah Campak, Puskesmas Babelan I Turun Langsung ke Desa

PDF 📄BEKASI – Upaya peningkatan cakupan imunisasi campak di wilayah desa terus digencarkan oleh Dinas …

Jaga Tradisi Desa Balerejo, Sunarko Lawan Arus Modernisasi

PDF 📄TULUNGAGUNG – Upaya pelestarian tradisi lokal di Desa Balerejo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung, terus …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *