LAMPUNG – Model pengembangan kebun anggur di Desa Merak Batin, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, mulai disiapkan untuk diterapkan di desa-desa lain di Indonesia. Panen perdana kebun milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Merak Berseri pada 5 September 2026 menjadi momentum pencanangan program desa tematik anggur yang melibatkan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kementerian Desa PDT) bersama Asosiasi Penggiat Anggur Indonesia (ASPAI).
Pengembangan tersebut tidak hanya bertumpu pada kemampuan desa membudidayakan anggur, tetapi juga pada pola kemitraan dengan ASPAI serta penyerapan hasil panen oleh dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Skema itu dinilai dapat menjadi contoh pengembangan komoditas berbasis potensi desa sekaligus membuka peluang penguatan ekonomi masyarakat.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto hadir dalam panen perdana tersebut dan mendorong model Merak Batin direplikasi di daerah lain. Gagasan itu kemudian diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Desa PDT dan ASPAI sebagai payung kerja sama pendampingan desa tematik anggur secara nasional.
Sebelumnya, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) ASPAI Lampung mendampingi BUMDes Merak Berseri dalam pengembangan budi daya anggur. Hasil produksi kebun tersebut telah memiliki jalur penyerapan melalui dapur MBG setempat, sehingga usaha desa tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memiliki pasar.
Sebagaimana diberitakan Majalah Trubus, Senin (07/09/2026), Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus) Kementerian Desa PDT Aries Marsudi Yanto turut mengapresiasi pengembangan kebun anggur tersebut. Program itu dinilai berpotensi diperluas untuk menggerakkan perekonomian desa, dengan ASPAI tetap berperan sebagai pendamping budi daya.
Dukungan juga diberikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan. Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama menilai kunjungan kerja pemerintah pusat menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dalam pengembangan ketahanan pangan dan agrowisata.
“Kita bisa membangun Lampung Selatan dan masyarakat di sini menjadi lebih produktif lagi,” kata Egi.
Potensi pengembangan komoditas tersebut cukup besar karena sekitar 75 persen dari 256 desa dan empat kelurahan di Lampung Selatan merupakan kawasan pertanian, baik sawah maupun nonsawah. Kondisi itu menjadi modal bagi Pemkab Lampung Selatan untuk mengembangkan berbagai desa tematik berdasarkan potensi lokal.
Pertumbuhan ekonomi Lampung Selatan yang mencapai 5,71 persen pada 2025 juga disebut menjadi salah satu pendukung pengembangan ekonomi berbasis potensi daerah. Kebun anggur Merak Batin diharapkan dapat menjadi salah satu contoh bagaimana komoditas pertanian dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi desa yang lebih produktif.
Gagasan desa tematik anggur tersebut telah muncul sebelum panen perdana. Pada 31 Agustus 2026, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ASPAI melakukan audiensi dengan Yandri untuk menyampaikan rencana panen di kebun BUMDes Merak Berseri. Dalam pertemuan itu, Yandri mengusulkan anggur sebagai salah satu komoditas desa tematik sekaligus meminta ASPAI mendampingi pengembangannya secara nasional.
Rencana tersebut kemudian diwujudkan melalui nota kesepahaman yang diteken saat panen perdana. Sejumlah unsur turut hadir dalam kegiatan itu, antara lain Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Desa PDT Taufik Madjid, Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa dan Daerah Tertinggal (Dirjen PEID) Tabrani, kepala desa, direktur BUMDes, pendamping desa se-Lampung Selatan, serta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan kader penggerak desa se-Kecamatan Natar.
Kesepakatan tersebut kini membuka peluang bagi desa-desa lain yang memiliki kondisi pertanian dan potensi budi daya serupa untuk mengembangkan komoditas anggur. Jika pendampingan, produksi, dan penyerapan hasil dapat berjalan berkelanjutan, model Merak Batin berpeluang menjadi salah satu pola pengembangan ekonomi desa berbasis komoditas yang diterapkan lebih luas. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara