Desa Adat Panjer Tanggung Biaya Upacara Massal

DENPASAR – Warga Desa Adat Panjer, Denpasar, Bali, mendapat fasilitas upacara Atma Wedana tanpa pungutan biaya dalam pelaksanaan yang diikuti 212 peserta atau puspa pada Minggu (06/09/2026). Seluruh biaya kegiatan ditanggung melalui kas desa adat, Lembaga Perkreditan Desa (LPD), unit usaha desa adat, serta dukungan Rp1 miliar dari Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar.

Pembiayaan tersebut membuat krama atau warga Desa Adat Panjer tidak perlu menanggung sendiri biaya pelaksanaan upacara secara besar. Skema pembiayaan bersama ini menjadi bagian dari pelaksanaan karya yang berlangsung di lapangan wantilan Desa Adat Panjer.

Ketua Panitia Penyelenggara I Ketut Suwardiana Putra mengatakan seluruh rangkaian kegiatan telah berlangsung sejak 1 September hingga puncak upacara pada 6 September 2026.

“Rangkaian ini sudah kami selenggarakan dari tanggal 1 September hingga puncaknya pada hari ini,” ujarnya.

Rangkaian puncak karya meliputi sejumlah tahapan, di antaranya ngajum puspa, lingga lan sanggae, mapurwa daksina, dan Rsi Bojana. Pelaksanaan kegiatan berjalan dengan partisipasi warga yang mengikuti seluruh prosesi secara tertib.

Sebagaimana diberitakan Tribun Bali, Minggu (06/09/2026), pelaksanaan Atma Wedana merupakan bagian dari rangkaian upacara yang sebelumnya diawali Pitra Yadnya berupa Warak Kururon, Ngelungah, dan Nglangkir pada 24-25 Mei 2026. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan upacara metatah atau mesangih massal.

Bendesa Adat Panjer AA Ketut Oka Adnyana menjelaskan Atma Wedana bertujuan meningkatkan penyucian roh pitara menuju Sunia Loka. Sebelum puncak memukur, desa adat juga menyelenggarakan metatah massal yang diikuti 266 peserta.

“Upacara Atma Wedana ini bertujuan untuk meningkatkan penyucian roh pitara menuju Sunia Loka. Namun sebelum puncak memukur dilaksanakan, kami menyelenggarakan upacara metatah massal,” ujar Oka Adnyana.

Dalam pelaksanaan metatah massal tersebut, warga juga tidak dibebani biaya yang telah ditetapkan sebagai kewajiban. Kontribusi dalam bentuk punia diberikan secara sukarela sebagai ungkapan rasa syukur.

“Krama tidak dibebani biaya alias gratis. Kami tidak menetapkan standar biaya sama sekali. Hanya memberikan punia, kami persilakan seikhlasnya sebagai wujud rasa syukur sebagai jatu,” jelasnya.

Pembiayaan dari kas desa adat, LPD, dan unit-unit usaha menunjukkan peran kelembagaan ekonomi desa adat dalam menopang pelaksanaan kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat. Dukungan Pemkot Denpasar sebesar Rp1 miliar turut memperkuat penyelenggaraan karya tersebut.

Kebijakan pelaksanaan upacara secara massal dan gratis juga diarahkan untuk membantu masyarakat mengurangi beban pengeluaran. Dengan fasilitas yang disiapkan secara kolektif, warga dapat mengikuti rangkaian adat tanpa harus menanggung seluruh kebutuhan upacara secara mandiri.

Atma Wedana di Desa Adat Panjer dijadwalkan menjadi agenda yang dilaksanakan secara berkala setiap empat tahun. Pengelola desa adat berharap dukungan masyarakat tetap terjaga agar pelaksanaan kegiatan serupa dapat terus berlangsung dan memberikan manfaat bagi krama. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Abu Vulkanik Tebal Menyebar ke Utara hingga Selatan Cianjur

PDF 📄CIANJUR – Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau menyelimuti sebagian besar wilayah Kabupaten …

27 Mata Air Dijaga, Kearifan Karang Bajo Dipuji Putri Victoria

PDF 📄LOMBOK UTARA – Kearifan masyarakat Desa Adat Karang Bajo Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa …

Pesawat Latihan Jatuh di Blora, Dua Awak Selamat

PDF 📄BLORA – Dua awak pesawat aerosport jenis fixed-wing Sky Ranger selamat setelah pesawat yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *