KKN-T IPB Ditutup, Desa Jatirejo Bawa Pulang Inovasi dan Digitalisasi

WONOGIRI – Program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University di Desa Jatirejo, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, berakhir setelah 40 hari dengan sejumlah hasil yang ditujukan untuk dapat dilanjutkan masyarakat. Program tersebut mencakup literasi keuangan, ketahanan keluarga, digitalisasi desa, pengembangan inovasi olahan kacang mete, hingga edukasi pemilihan dan penyimpanan telur.

Rangkaian program itu dipaparkan dalam Lokakarya 2 yang dihadiri perangkat Desa Jatirejo serta para ketua Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW). Kegiatan tersebut menjadi forum evaluasi sekaligus penyampaian hasil pengabdian mahasiswa selama berada di desa.

Salah satu program menyasar literasi keuangan dan ketahanan keluarga bagi siswa SDN 1, SDN 2, dan SDN 3 Jatirejo serta anggota Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Tim KKNT IPB juga memperkenalkan media peraga Rumah Ketahanan Keluarga yang digunakan dalam sosialisasi di delapan dusun.

Di bidang tata kelola, mahasiswa merespons kebutuhan Pemerintah Desa Jatirejo dan Karang Taruna melalui program digitalisasi desa. Program tersebut menghasilkan situs web Desa Jatirejo, sistem administrasi dan persuratan berbasis Microsoft Excel, serta akun media sosial karang taruna yang dapat dikelola secara mandiri dan berkelanjutan.

Sementara itu, potensi kacang mete yang menjadi salah satu keunggulan Jatirejo dikembangkan menjadi inovasi susu kacang mete. Produk tersebut mendapat perhatian Tim Penggerak (TP) PKK Desa Jatirejo dan menjadi salah satu inovasi unggulan dalam Lomba Desa Binaan tingkat Kecamatan Jatiroto.

Perangkat Desa Jatirejo, Bu Iwan, menilai keberlanjutan hasil program membutuhkan komitmen dari masyarakat. “Tidak mudah, banyak sekali hambatan untuk melaksanakan hasil lokakarya. Kalian membutuhkan komitmen. Terkadang, kita juga harus berdiskusi dan rapat membahas tujuan hasil kalian KKN disini. Sebagai contoh, mungkin kegiatan yang dilaksanakan seperti membuat susu nantinya bisa kami implementasikan disini,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Goodnewsfromindonesia, Kamis, (27/08/2026).

Selain inovasi pangan, mahasiswa memberikan sosialisasi mengenai pemilihan dan penyimpanan telur kepada masyarakat. Materi mengenai pengolahan susu kacang mete dan pemilihan telur dirangkum dalam satu leaflet untuk dibagikan kepada peserta dari delapan dusun.

Pada bagian akhir Lokakarya 2, Bu Iwan kembali menyampaikan pesan kepada mahasiswa dan masyarakat.

“Saat aku kecil, aku bercita-cita untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. Ketika aku beranjak remaja, aku bercita-cita untuk mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Kemudian, saat aku dewasa, aku bercita-cita membuat keluarga menjadi lebih baik. Saat aku menjelang senja, aku bercita-cita mengubah diriku menjadi lebih baik.”

“Bapak, Ibu, Njenengan. Menurut penulis, kalimat itu dituliskan karena dia tidak bisa mengubah dunia atau mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Maka, dia berusaha mengubah dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik. Sehingga ketika dirinya menjadi lebih baik, (hal tersebut) berefek pada keluarganya (yang menjadi) lebih baik. Mari kita bersama-sama mengubah diri kita menjadi lebih baik,” pungkas Bu Iwan sebagai penutup Lokakarya 2 KKNT IPB Desa Jatirejo.

Selain Lokakarya 2, mahasiswa KKNT IPB menggelar malam perpisahan pada 12 Agustus 2026 di Pendopo Balai Desa Jatirejo. Acara tersebut diikuti masyarakat dari berbagai dusun, perangkat desa, dan tujuh mahasiswa yang selama 40 hari menjalankan kegiatan pengabdian di desa tersebut.

Berbagai penampilan dari warga, perangkat desa, dan tim KKNT IPB menjadi bagian dari acara. Suasana semakin hangat ketika after movie yang merangkum perjalanan mahasiswa selama berada di Jatirejo ditayangkan kepada para peserta.

Kesan dan pesan dari Kepala Desa Jatirejo, Sekretaris Desa, Ketua TP PKK, serta delapan kepala dusun turut disampaikan sebagai bentuk apresiasi kepada mahasiswa. Momen tersebut sekaligus menjadi penanda berakhirnya rangkaian kegiatan KKNT IPB.

Sejumlah hasil program yang ditinggalkan mahasiswa diharapkan tidak berhenti setelah masa pengabdian berakhir. Sistem digital desa, inovasi susu kacang mete, materi edukasi, serta berbagai program pemberdayaan dapat menjadi modal bagi masyarakat untuk melanjutkan kegiatan secara mandiri.

Bagi mahasiswa, 40 hari di Jatirejo tidak hanya menghasilkan program kerja, tetapi juga membangun hubungan dengan masyarakat. Perpisahan menjadi penutup kegiatan secara formal, sedangkan keberlanjutan program dan silaturahmi diharapkan tetap berjalan setelah mahasiswa kembali ke aktivitas masing-masing. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Wayang Kulit dan Festival Makanan Warnai Bersih Desa Pundungan

PDF đź“„KLATEN – Tradisi Bersih Desa Pundungan tidak hanya menjadi momentum pelestarian budaya, tetapi juga …

UMKM Desa Puncak Dibekali Strategi Digital untuk Perluas Konsumen

PDF đź“„KUNINGAN – Pendampingan digital yang dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University …

Prabowo Minta BRIN Kembangkan Teknologi Desalinasi untuk Desa

PDF đź“„NUSA TENGGARA TIMUR – Keterbatasan air bersih di wilayah kepulauan pascabencana mendorong pemerintah mencari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *