Jembatan Puluhan Tahun Segera Berganti, Warga Ngindeng Pilih Sungai untuk Upacara

PONOROGO – Warga Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, menjadikan aliran sungai sebagai lokasi upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia pada Senin (17/8/2026), sekaligus merekam keberadaan jembatan lama yang direncanakan diganti pada 2027.

Kegiatan tersebut tidak sekadar menghadirkan suasana berbeda dalam peringatan kemerdekaan. Pemerintah Desa (Pemdes) Ngindeng memanfaatkan momentum itu untuk menyimpan kenangan tentang jembatan yang telah digunakan masyarakat selama puluhan tahun sebelum nantinya dibongkar dan digantikan dengan bangunan baru.

Peserta harus melewati medan sungai dengan arus air, bebatuan, dan permukaan yang licin. Kondisi tersebut juga menjadi tantangan bagi tiga anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) putri yang bertugas mengibarkan Sang Merah Putih.

Para anggota Paskibraka bahkan menjalani latihan selama dua hari untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lokasi. Setelah berhasil menjalankan tugas, salah seorang pengibar bendera, Valen Yulanda Anindita, mengaku lega meski sempat menghadapi rasa takut.

“Alhamdulillah bisa melewatinya. Walaupun medannya licin,” ungkap Valen sebagaimana diberitakan Tribun Jatim, Senin, (17/08/2026).

Valen mengatakan tugas tersebut merupakan pengalaman pertamanya sebagai petugas pengibar bendera, terlebih pelaksanaannya dilakukan di tengah sungai.

“Kalau takut sih ada, karena medannya yang curam, terus enggak rata. Jalanannya itu enggak rata, jadi kita kadang terpeleset. Licin gitu, ya,” urainya.

Kepala Desa (Kades) Ngindeng Bima Sakti Saputra mengatakan pemilihan sungai sebagai lokasi upacara berkaitan dengan rencana perubahan kawasan tersebut setelah jembatan lama dibongkar.

“Ini kegiatannya unik. Kenapa kita mengambil upacara yang ada di sungai?Di tahun 2027 nanti, kenangan-kenangan yang ada di atas ini, jembatan yang sudah puluhan tahun ini akan dibongkar, diganti dengan jembatan yang baru,” jelasnya.

Menurut Bima, kegiatan tersebut menjadi cara masyarakat meninggalkan catatan sejarah bagi generasi berikutnya mengenai kondisi Desa Ngindeng sebelum pembangunan jembatan baru.

“Ini sejarah dari Panglima Jenderal Soedirman. Maka dari itu, karena ada nilai historikal, kesempatan hari ini kita mengambil momentum upacaranya yang ada di sungai,” tegasnya.

Bima mengatakan pelaksanaan upacara di sungai merupakan pengalaman pertama. Pada tahun sebelumnya, warga menggelar kegiatan serupa di rumah singgah Jenderal Soedirman.

Selain menjadi penanda perubahan infrastruktur, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sungai. Pemdes Ngindeng berharap kondisi sungai tetap bersih dan alami sehingga dapat memberikan kenyamanan bagi warga maupun pengunjung.

“Betul! Ini mewujudkan dari kami dan juga masyarakat, “Ayo kita lindungi, kita cintai sungai.” Supaya nanti sungai kita lestari dan juga menjadi alami, biar nanti orang datang ke Ngidhang itu melihat airnya yang bersih, tidak ada sampah, itu akan nyaman dan beliau ingin kembali lagi ke Desa Ngindeng,” pungkasnya. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Peternakan Ayam Kaltim Diperkuat dari Bibit hingga Pakan

PDF đź“„SAMARINDA – Pengawasan mutu bibit anak ayam menjadi salah satu langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) …

Delapan Kampung Pesisir Mimika Didorong Terhubung dalam Rantai Pasok Perikanan

PDF đź“„TIMIKA – Delapan kampung pesisir di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, disiapkan sebagai kawasan Kampung …

KDMP Aceh Barat Hadapi Kelangkaan Material, Pembangunan Tetap Jalan

PDF đź“„ACEH BARAT – Keterbatasan Material Tak Hentikan Pembangunan KDMP Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *