Gunung Malang dan Tugu Utara Wakili Kekuatan Wisata Berbasis Desa

BOGOR – Desa Wisata Jadi Penggerak Ekonomi Lokal, Dua Destinasi Kabupaten Bogor Masuk Top 15 Jawa Barat Dua desa wisata di Kabupaten Bogor, yakni Desa Wisata Gunung Malang dan Desa Wisata Tugu Utara, dinilai memiliki peluang besar untuk memperluas manfaat pariwisata kepada masyarakat setelah berhasil masuk jajaran 15 besar desa/kampung wisata terbaik Jawa Barat dalam ajang Smiling West Java Integrated Tourism Destination Management Award (SWJ ITDMA) 2026.

Capaian tersebut tidak hanya dipandang sebagai prestasi dalam kompetisi pariwisata, tetapi juga momentum untuk memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penginapan, kuliner, kerajinan, serta berbagai layanan pendukung destinasi.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Fikri, menilai keberhasilan kedua desa wisata itu menunjukkan bahwa pengembangan potensi berbasis masyarakat memiliki daya saing di tingkat Jawa Barat.

“Selamat dan apresiasi setinggi-tingginya untuk Desa Wisata Gunung Malang dan Desa Wisata Tugu Utara yang berhasil masuk Top 15 desa/kampung wisata terbaik Jawa Barat. Ini adalah prestasi yang patut kita banggakan bersama,” ujar Fikri, Senin (17/8/2026).

Menurut Fikri, pencapaian tersebut harus diarahkan pada peningkatan kesejahteraan warga, bukan berhenti sebagai penghargaan. Ia menilai aktivitas wisata dapat membuka ruang ekonomi baru apabila masyarakat sekitar memperoleh manfaat langsung dari meningkatnya kunjungan.

“Yang paling penting setelah mendapatkan prestasi adalah bagaimana penghargaan ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Wisatawan datang, UMKM tumbuh, homestay berkembang, kuliner lokal bergerak, produk kerajinan semakin dikenal, dan anak-anak muda mendapatkan peluang usaha serta lapangan pekerjaan,” katanya.

Ia juga mendorong pengelola desa wisata mempertahankan karakter lokal sebagai daya tarik utama. Potensi alam, budaya, kuliner, kerajinan, tradisi, dan kearifan masyarakat dinilai perlu dikembangkan tanpa menghilangkan identitas masing-masing desa.

Fikri turut memberikan apresiasi kepada kelompok sadar wisata (Pokdarwis), pemerintah desa, pelaku UMKM, tokoh masyarakat, pemuda, serta warga yang terlibat dalam pengembangan Desa Wisata Gunung Malang dan Desa Wisata Tugu Utara.

“Prestasi seperti ini tidak lahir dalam waktu singkat. Ada kerja keras masyarakat, Pokdarwis, pemerintah desa dan seluruh pihak yang ikut merawat serta mengembangkan potensi wisata. Karena itu, keberhasilan ini harus menjadi milik bersama,” tutur Fikri.

Sebagaimana diberitakan Wartatrans, Senin (17/08/2026), SWJ ITDMA 2026 diikuti 44 desa wisata dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat. Proses seleksi mencakup verifikasi administrasi serta penilaian dokumentasi dan portofolio yang diunggah secara digital melalui platform Pesona Pasundan.

Penilaian tersebut mempertimbangkan tata kelola destinasi, atraksi, amenitas, aksesibilitas, promosi, serta kekuatan kearifan lokal. Karena itu, capaian dua desa wisata Kabupaten Bogor tersebut dinilai dapat menjadi pijakan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan destinasi secara berkelanjutan.

“Potensi Kabupaten Bogor sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi itu dikelola secara profesional, berkelanjutan dan memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ujarnya.

Fikri berharap pemerintah daerah dapat memperkuat pendampingan, promosi, dan peningkatan kapasitas desa wisata. Keterlibatan akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan generasi muda juga dinilai penting agar pengembangan pariwisata tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang melibatkan masyarakat.

“Jangan berhenti di Top 15. Jadikan ini sebagai energi baru untuk terus berbenah, berinovasi dan meningkatkan kualitas. Kalau pengelolaan semakin baik, insyaallah bukan hanya penghargaan yang kita dapatkan, tetapi kesejahteraan masyarakat juga ikut meningkat,” tegasnya.

Menurut Fikri, keberhasilan desa wisata pada akhirnya harus diukur dari manfaat yang dirasakan masyarakat, termasuk terbukanya peluang usaha dan pekerjaan serta semakin dikenalnya potensi lokal.

“Pariwisata bukan sekadar menjual pemandangan. Di dalamnya ada manusia, budaya, ekonomi dan masa depan masyarakat. Karena itu, desa wisata harus tumbuh bersama masyarakatnya,” pungkas Fikri. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Peternakan Ayam Kaltim Diperkuat dari Bibit hingga Pakan

PDF đź“„SAMARINDA – Pengawasan mutu bibit anak ayam menjadi salah satu langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) …

Delapan Kampung Pesisir Mimika Didorong Terhubung dalam Rantai Pasok Perikanan

PDF đź“„TIMIKA – Delapan kampung pesisir di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, disiapkan sebagai kawasan Kampung …

KDMP Aceh Barat Hadapi Kelangkaan Material, Pembangunan Tetap Jalan

PDF đź“„ACEH BARAT – Keterbatasan Material Tak Hentikan Pembangunan KDMP Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *