Deswita Fest 2026 Jadi Ajang Kebangkitan Wisata Berbasis Masyarakat

SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang memperkuat pengembangan desa wisata melalui Festival Desa Wisata (Deswita Fest) 2026 sebagai upaya meningkatkan daya tarik pariwisata sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat setempat. Kegiatan yang berlangsung di Bumi Perkemahan Harda Walika, Kelurahan Jatirejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (11/7/2026), menampilkan potensi budaya, kesenian, dan produk unggulan dari sejumlah desa wisata.

Festival tersebut digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang dengan menghadirkan 11 desa wisata dari total 13 desa wisata yang telah terbentuk di wilayah tersebut. Masing-masing peserta menampilkan kreativitas melalui berbagai atraksi seni budaya, stan pameran, serta kelengkapan administrasi dan promosi wisata.

Kepala Disbudpar Kota Semarang, Indriyasari, mengatakan kegiatan Deswita Fest menjadi salah satu langkah untuk memperkenalkan potensi desa wisata sekaligus melengkapi pendataan yang dibutuhkan pemerintah pusat.

“Memang data yang muncul baru ada satu desa wisata, sehingga harapannya setelah adanya event deswita fest ini nantinya kami bisa untuk melengkapi data -data yang diminta oleh pusat. Seperti di antaranya terkait video profil, atraksi, dan story tellingnya,” ucapnya sebagaimana diberitakan RRI, Minggu (12/07/2026).

Indriyasari menyebut, penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) juga menjadi perhatian Disbudpar agar pengelola desa wisata mampu memberikan pelayanan terbaik, termasuk ketika menerima kunjungan wisatawan mancanegara.

“Kini mulai dikunjungi wisatawan tak hanya dari sekitar Semarang, tetapi juga dari luar negeri. Dalam waktu dekat ini juga akan ada kunjungan dari Perancis yang mendatangkan sejumlah penulis untuk tinggal beberapa hari di desa wisata. Paling banyak kunjungan wisata masih dipegang desa wisata Kandri. Untuk itu kami tengah membuat rintisan baru seperti desa wisata Kandri,” katanya.

Selain pengembangan SDM, Disbudpar juga menyiapkan penguatan fasilitas pendukung wisata melalui pembangunan Tourism Information Centre (TIC) di Kelurahan Jatirejo. Kawasan tersebut direncanakan dikembangkan sebagai desa wisata ramah muslim.

Indriyasari mengungkapkan, meski pada 2026 belum terdapat desa wisata mandiri baru seperti Desa Wisata Kandri, pemerintah tetap menargetkan munculnya sejumlah desa wisata baru yang mampu berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.

Festival Desa Wisata 2026 juga menjadi sarana pemerintah daerah untuk menggali potensi lokal dari setiap wilayah. Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah (Setda) Kota Semarang Wing Wiyarso menilai kegiatan tersebut mampu memperkuat peran desa wisata sebagai penggerak ekonomi masyarakat.

“Agar menarik wisatawan untuk berkunjung. Sekaligus terus meningkatkan jumlah kunjungan dan nantinya juga akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat setempat yang ada di desa wisata,” ucapnya.

Menurut Wing, perkembangan desa wisata di Kota Semarang menunjukkan tren positif karena mampu menjadi salah satu penyumbang kunjungan wisata daerah. Ia menilai kualitas peserta Deswita Fest 2026 semakin meningkat sehingga persaingan antar-desa wisata berlangsung ketat.

“Hampir semua peserta memiliki nilai yang tipis. Kualitasnya juga sangat baik sehingga seluruh desa wisata yang mengikuti festival ini tampil luar biasa. Ini membuktikan bahwa desa-desa wisata di Kota Semarang terus berkembang dan semakin maju,” katanya.

Ia menambahkan, Festival Desa Wisata tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga menjadi wadah bersama untuk memperkuat sektor pariwisata berbasis masyarakat.

“Pariwisata menjadi salah satu sektor yang terus kami dorong karena mampu memberdayakan masyarakat sekaligus mendukung terwujudnya Semarang yang semakin hebat melalui potensi wisata yang dimiliki setiap wilayah,” ujarnya.

Dalam Deswita Fest 2026 terdapat tiga kategori perlombaan, yakni kategori Video dan Administrasi, Stan Pameran, serta Atraksi Seni dan Budaya. Pada kategori Video dan Administrasi, Juara I diraih Desa Wisata Kampoeng Djadhoel, Juara II Desa Wisata Pudakpayung, dan Juara III Desa Wisata Jatirejo.

Sementara kategori Stan Pameran dimenangkan Desa Wisata Sawah Tambangan sebagai Juara I, Desa Wisata Jatirejo sebagai Juara II, dan Desa Wisata Kampoeng Djadhoel sebagai Juara III. Untuk kategori Atraksi Seni dan Budaya, Juara I diraih Desa Wisata Sawah Tambangan, Juara II Desa Wisata Kampoeng Djadhoel, dan Juara III Desa Wisata Kandri.

Ke depan, pengembangan desa wisata di Kota Semarang diharapkan mampu memperluas pilihan destinasi wisata, meningkatkan kunjungan wisatawan, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui pengelolaan potensi lokal. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

DPRD Semarang Usul Tambah Juara Harapan di Festival Desa Wisata

PDF đź“„SEMARANG – Festival Desa Wisata Kota Semarang 2026 dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat …

NTB Ubah Strategi Pariwisata, Fokus pada Quality Tourism

PDF đź“„MATARAM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) mengubah arah pembangunan sektor pariwisata …

NTB Dorong Wellness Tourism untuk Perkuat Desa dan Ekonomi Lokal

PDF đź“„MATARAM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai mengarahkan pembangunan sektor pariwisata …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *