GOWA – Upaya percepatan penurunan stunting di Desa Jipang, Kecamatan Bontonompo Selatan, Kabupaten Gowa, mendapat perhatian serius setelah teridentifikasi 12 anak mengalami stunting pada 2026. Dari jumlah tersebut, Dusun Alluka menjadi wilayah dengan kasus tertinggi, yakni enam anak.
Data tersebut mengemuka dalam Rembuk Stunting 2026 yang digelar Pemerintah Desa (Pemdes) Jipang bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Jipang di Aula Kantor Desa Jipang, Rabu (24/6/2026). Forum itu dihadiri unsur pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader kesehatan, pendamping desa, tokoh masyarakat, serta warga setempat.
Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kabupaten Gowa, Kasmawati, mengungkapkan berdasarkan data terbaru dari petugas gizi puskesmas, terdapat 12 anak stunting di Desa Jipang.
“Jumlah anak stunting di Desa Jipang ada 12 untuk tahun ini. Yang terbanyak berada di Dusun Alluka sebanyak enam anak,” ujarnya.
Menurut Kasmawati, stunting tidak hanya dipengaruhi satu faktor, tetapi berkaitan dengan berbagai aspek, mulai dari pola asuh orang tua, kondisi ekonomi keluarga, sanitasi lingkungan, hingga tingkat pendidikan masyarakat.
Ia menjelaskan sanitasi yang belum memadai menjadi salah satu penyebab yang perlu mendapat perhatian. Ketersediaan jamban sehat dan lingkungan yang bersih dinilai berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.
Selain itu, pernikahan usia dini juga disebut meningkatkan risiko stunting karena orang tua belum memiliki kesiapan dan pengetahuan yang cukup dalam pengasuhan anak. Pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif juga menjadi salah satu langkah penting dalam pencegahan stunting.
Sementara itu, Bidan Desa Jipang Hasiyah mengungkapkan sejumlah kendala yang dihadapi dalam pelayanan kesehatan masyarakat, di antaranya rendahnya partisipasi kader dalam kegiatan penimbangan balita serta keterbatasan sarana kesehatan di pos pelayanan terpadu (Posyandu).
Hasiyah mengatakan beberapa peralatan kesehatan mengalami kerusakan, seperti alat ukur tinggi badan, timbangan berat badan, dan alat ukur lingkar kepala. Kondisi tersebut dinilai menghambat pemantauan tumbuh kembang anak secara optimal.
Ia juga berharap dukungan terhadap program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dapat diperkuat guna membantu pemenuhan kebutuhan gizi balita di desa.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Kepala Desa (Kades) Jipang Arifuddin Kadir menegaskan bahwa penanganan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Kalau kita berbicara tentang stunting tentu ada target yang harus kita capai bersama,” katanya sebagaimana diberitakan Tribun Timur, Rabu (24/06/2026).
Menurut Arifuddin, pemerintah desa, BPD, tenaga kesehatan, kader Posyandu, dan masyarakat harus bergerak bersama untuk menekan angka stunting. Ia juga menilai rendahnya kehadiran warga dalam kegiatan Posyandu menjadi tantangan yang perlu segera diatasi.
Karena itu, Pemdes Jipang berkomitmen meningkatkan sosialisasi jadwal Posyandu kepada masyarakat, membantu pengadaan alat kesehatan yang dibutuhkan, serta berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memperkuat layanan kesehatan di desa.
Rembuk Stunting 2026 ditutup dengan komitmen bersama seluruh peserta untuk memperkuat langkah pencegahan dan penanganan stunting agar tercipta generasi yang lebih sehat, berkualitas, dan bebas stunting di Desa Jipang. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara