MANGGARAI BARAT – Transformasi konsep pariwisata di Desa Wisata Wae Lolos, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT), menghadirkan pengalaman baru bagi wisatawan dengan menjadikan kebun petani sebagai daya tarik utama. Pergeseran strategi promosi pada 2026 ini tidak lagi berfokus pada panorama alam semata, melainkan mengangkat aktivitas pertanian dan kehidupan masyarakat desa sebagai bagian dari atraksi wisata edukatif.
Desa Wae Lolos yang sebelumnya dikenal melalui pesona air terjun dan perbukitan hijau kini menawarkan pengalaman langsung kepada wisatawan untuk mengenal kehidupan petani lokal. Pengunjung diajak menyaksikan proses budidaya tanaman hingga pengolahan hasil panen yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.
Di sepanjang jalur menuju destinasi wisata, wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan warga dan menikmati suasana pedesaan yang masih alami. Kehadiran kantin tradisional serta jalur setapak yang membelah kawasan perbukitan turut memperkuat pengalaman wisata berbasis masyarakat tersebut.
Salah satu daya tarik yang menonjol adalah aktivitas petani saat mengelola komoditas unggulan desa, seperti kopi, cengkeh, vanili, dan kemiri. Wisatawan tidak hanya melihat hasil panen, tetapi juga memperoleh penjelasan langsung mengenai proses perawatan hingga penjemuran hasil pertanian.
“Ini bukan sekadar tentang pemandangan, tapi tentang kehidupan,” ujar salah seorang wisatawan Australia sembari mengamati tanaman hias unik dan eksotis yang tumbuh subur di tepi jalan, sebagaimana diwartakan Okebajo, Selasa (23/06/2026).
Konsep wisata berbasis agrikultur tersebut dinilai mampu menciptakan hubungan yang lebih dekat antara wisatawan dan masyarakat lokal. Para petani secara langsung membagikan pengalaman mereka dalam mengelola lahan pertanian di kawasan pegunungan yang subur, mulai dari proses penanaman hingga masa panen.
Selain memperkuat sektor pariwisata, pendekatan ini juga membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat desa melalui pemanfaatan potensi lokal. Kehadiran wisatawan yang tertarik pada aktivitas pertanian dan budaya setempat diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi produk serta hasil kebun warga.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cunca Plias, Robert Perkasa, menilai perubahan arah promosi tersebut menunjukkan bahwa daya tarik Labuan Bajo tidak hanya berada pada kawasan pesisir dan laut, tetapi juga pada kehidupan masyarakat desa yang tetap menjaga tradisi, kebun, serta warisan leluhur mereka. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara