JAKARTA – Pemanfaatan limbah kelapa di kawasan wisata Pantai Lampuuk, Kabupaten Aceh Besar (Aceh Besar), berhasil menciptakan sumber ekonomi baru bagi masyarakat sekaligus menekan biaya produksi peternak unggas. Melalui program Sampah Kelapa untuk Desa Sejahtera (Sakeladera), sekitar 60 ton sampah kelapa per bulan diolah menjadi cocopeat (serbuk halus dari sabut kelapa) yang dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak.
Program yang dijalankan PT Solusi Bangun Andalas, unit usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), tersebut mampu menurunkan biaya pakan peternak hingga 60 persen serta mengurangi emisi karbon akibat pembakaran limbah kelapa yang selama ini menjadi persoalan lingkungan di kawasan pesisir.
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan agenda keberlanjutan.
”Sustainability Roadmap SIG 2030 merupakan panduan strategis bagi seluruh entitas bisnis SIG dalam mewujudkan komitmen keberlanjutan, yang memuat strategi dan indikator kinerja keberlanjutan secara komprehensif dan aplikatif. Program Sakeladera PT Solusi Bangun Andalas selaku unit usaha SIG menjadi bukti nyata kepedulian Perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat di Aceh,” kata Vita, sebagaimana diberitakan Viva, Selasa (23/06/2026).
Program Sakeladera lahir dari tingginya timbulan sampah kelapa di Pantai Lampuuk yang mencapai sekitar 60 ton setiap bulan. Sebelum diolah, limbah tersebut umumnya dibiarkan membusuk atau dibakar sehingga menghasilkan emisi hingga 34,8 ton karbon dioksida (COâ‚‚) per bulan.
Di sisi lain, peternak unggas di Kecamatan Lhoknga menghadapi tingginya biaya pakan akibat ketergantungan pada pasokan dari luar daerah. Pengeluaran pakan bahkan mencapai sekitar Rp48 juta per bulan.
Melihat kondisi tersebut, PT Solusi Bangun Andalas pada 2024 menginisiasi program Sakeladera dengan menggandeng Bank Sampah Generasi Milenial (Basagemil). Komunitas tersebut sebelumnya telah bekerja sama dengan perusahaan melalui program Solusi Bangun Andalas Sahabat Pesisir (Sobat Si Abes) sejak 2022.
Selain menyediakan peralatan pengolahan limbah kelapa menjadi cocopeat, perusahaan juga memberikan edukasi, pendampingan, dan sosialisasi kepada masyarakat agar program dapat berjalan secara berkelanjutan.
Hasilnya, volume sampah kelapa berhasil ditekan menjadi sekitar 20 hingga 24 ton per bulan. Inovasi tersebut juga membantu kelompok peternak unggas di Lhoknga menghemat biaya pakan hingga sekitar Rp28,2 juta per bulan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
Tidak hanya berdampak pada sektor lingkungan dan peternakan, program ini turut membuka peluang kerja bagi masyarakat. Sebanyak 28 warga terlibat dalam rantai pasok mulai dari pengumpulan limbah kelapa, pemilahan, pengolahan menjadi cocopeat, hingga distribusi produk. Produk cocopeat yang dihasilkan juga telah lulus pengujian Balai Riset dan Standardisasi Industri terkait kandungan kalsium dan protein sehingga memiliki potensi pengembangan lebih lanjut bagi sektor peternakan lokal. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara