Krisis Air Mulai Mengintai, Dua Desa di Sumenep Masuk Status Siaga Kekeringan

SUMENEP Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi meluasnya kekeringan setelah dua desa di Kecamatan Pasongsongan dilaporkan mengalami kesulitan air bersih pada awal musim kemarau 2026.

Dua wilayah yang terdampak adalah Desa Prancak dan Desa Montorna. Meski demikian, BPBD Sumenep menyatakan kondisi saat ini masih berada pada status siaga sehingga belum diperlukan penetapan tanggap darurat maupun distribusi bantuan air bersih.

Kepala Pelaksana BPBD Sumenep, Achmad Laili Maulidi, mengatakan laporan kekeringan telah diterima dari kedua desa tersebut. Namun, penyaluran bantuan air bersih baru dilakukan setelah adanya permohonan resmi dari pemerintah desa dan hasil asesmen menunjukkan kebutuhan mendesak masyarakat.

“Iya, ada laporan dua desa mulai mengalami kekeringan, yakni Desa Prancak dan Desa Montorna di Kecamatan Pasongsongan. Tapi statusnya siaga, sehingga belum dilakukan dropping air bersih,” kata Achmad Laili Maulidi, sebagaimana diberitakan Kompas, Selasa (23/06/2026).

Menurutnya, mekanisme penyaluran bantuan mengacu pada usulan dari pemerintah desa. Setelah dilakukan verifikasi lapangan, BPBD akan segera mendistribusikan air bersih apabila kondisi warga dinilai membutuhkan penanganan.

“Dasarnya (dropping air) permintaan dari pemerintah desa. Setelah ada usulan, hasil asesmen menunjukkan warga membutuhkan air bersih, kami langsung menyalurkan bantuan,” tambahnya.

BPBD Sumenep memperkirakan jumlah desa terdampak dapat terus bertambah seiring berlangsungnya musim kemarau. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, wilayah yang mengalami kekeringan dapat mencapai lebih dari 60 desa yang tersebar di kawasan daratan maupun kepulauan.

Dalam penanganannya, BPBD membagi tingkat kekeringan menjadi empat kategori, yaitu ringan, sedang, berat, dan kritis. Prioritas bantuan diberikan kepada desa yang masuk kategori kritis, terutama ketika sumber air bersih tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

“Kalau sudah kritis, kami kirim bantuan air,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD telah menyiagakan personel, armada tangki, dan pasokan air bersih untuk menghadapi kemungkinan bertambahnya wilayah terdampak selama puncak musim kemarau.

“Personel, armada sudah disiagakan. Jika ada laporan dan permintaan dari desa, terutama yang mengalami kekeringan kritis, bantuan air bersih akan segera kami distribusikan,” ucap Laili.

BPBD juga terus berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan pemerintah desa guna memantau kondisi sumber air di seluruh wilayah. Pemerintah desa diminta aktif melaporkan penurunan debit air maupun kesulitan akses air bersih agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

“Harapan kami pihak desa proaktif melapor, agar segera tertangani,” ungkapnya.

Kesiapsiagaan sejak awal musim kemarau diharapkan mampu meminimalkan dampak krisis air bersih dan mempercepat penanganan apabila jumlah desa terdampak terus bertambah dalam beberapa bulan ke depan. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Desa Wae Lolos Kembangkan Wisata Agrikultur untuk Tarik Wisatawan

PDF 📄MANGGARAI BARAT – Transformasi konsep pariwisata di Desa Wisata Wae Lolos, Kabupaten Manggarai Barat …

Andrey Ikhsan Lubis Resmikan GEMA DESA, Desa Disebut Fondasi Indonesia

PDF 📄KARANGANYAR – Gerakan Membangun Desa dengan Kolaborasi Octahelix (GEMA DESA) 2026 resmi dimulai di …

Pemdes Lilangan Ajak Anak Muda Cintai Budaya Lewat Festival Enam Hari

PDF 📄BELITUNG TIMUR – Festival Seni Budaya Desa Lilangan 2026 menjadi upaya Pemerintah Desa (Pemdes) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *