BANDUNG BARAT – Desa Jayagiri di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), berpeluang menjadi model nasional pengembangan ekonomi desa berbasis energi terbarukan. Potensi tersebut mengemuka setelah Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), akademisi, komunitas lingkungan, dan masyarakat setempat meninjau pengembangan biogas yang terintegrasi dengan sektor pertanian dan peternakan.
Pembahasan tersebut berlangsung dalam kegiatan diskusi dan kunjungan lapangan di Pesantren Alam, Desa Jayagiri, Sabtu (20/06/2026). Kegiatan melibatkan Kementerian PPN/Bappenas, Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH), Institut Teknologi Bandung (ITB), kelompok tani, serta masyarakat desa untuk mengidentifikasi peluang pengembangan ekonomi berbasis lingkungan.
Kepala Desa (Kades) Jayagiri Cece Wahyudin mengatakan desa telah menyusun sejumlah langkah strategis guna memperkuat ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan energi biogas yang terhubung dengan sektor pertanian dan peternakan.
“Pupuk cair hasil pengolahan biogas nantinya akan didistribusikan kepada 25 kelompok gabungan tani (Gapoktan) di Jayagiri. Ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mengurangi limbah peternakan,” ujarnya.
Menurut Cece, program tersebut juga membuka peluang dukungan dari pemerintah pusat untuk pengembangan peternakan sapi, termasuk bantuan pakan, bibit ternak, dan peningkatan sanitasi kandang. Saat ini, kerja sama lintas sektor tengah dipersiapkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU).
Desa Jayagiri memiliki potensi besar untuk pengembangan energi terbarukan dengan populasi sekitar 5.000 ekor sapi perah yang dikelola 500 hingga 700 peternak. Limbah peternakan tersebut dinilai mampu menjadi sumber energi alternatif sekaligus menghasilkan pupuk organik yang mendukung produktivitas pertanian.
Direktur Kemandirian Sosial dan Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Dinar Dana Kharisma menilai praktik yang dikembangkan masyarakat Jayagiri memiliki peluang untuk direplikasi di daerah lain.
“Kami ingin mengidentifikasi berbagai praktik baik yang telah berjalan di masyarakat. Apa yang dikembangkan di sini berpotensi menjadi model yang dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan dan direplikasi di daerah lain,” kata Dinar, sebagaimana diberitakan Satumedia, Sabtu (20/06/2026).
Ia menambahkan bahwa keberhasilan program ekonomi desa tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat, serta peningkatan nilai tambah produk yang dihasilkan warga.
Sementara itu, Guru Besar Program Studi Teknik Kimia ITB Lienda Aliwarga menilai pemanfaatan limbah ternak menjadi biogas memiliki nilai ekonomi dan lingkungan yang tinggi apabila dikelola secara berkelanjutan.
“Kotoran sapi yang selama ini dianggap limbah sebenarnya memiliki nilai ekonomi yang besar. Selain menghasilkan gas untuk kebutuhan energi rumah tangga, hasil pengolahannya juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk yang mampu memperbaiki unsur hara tanah,” katanya.
Lienda menjelaskan pengembangan biogas dalam skala lebih besar memerlukan pengelolaan kolektif karena kapasitas optimal membutuhkan pasokan limbah dari sekitar 50 hingga 60 ekor sapi. Melalui kolaborasi pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat, Desa Jayagiri diharapkan menjadi contoh keberhasilan integrasi peternakan, pertanian, dan energi terbarukan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara