BANJARNEGARA – Tradisi Grebeg Sura di Desa Kemranggon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara kembali menjadi ruang penguatan kebersamaan masyarakat. Ribuan warga memadati Taman Maerakaca pada Selasa (16/6/2026) dengan membawa ribuan takir dan gunungan hasil bumi sebagai simbol syukur atas hasil pertanian sekaligus upaya menjaga warisan budaya desa.
Perayaan menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah tersebut diikuti masyarakat dari berbagai dusun di Desa Kemranggon. Sebanyak 6.000 takir berisi nasi dan lauk-pauk dibawa warga menggunakan tenong untuk kemudian dipertukarkan sebagai lambang berbagi rezeki dan mempererat hubungan sosial antarwarga.
Kepala Desa (Kades) Kemranggon Sutoyo menjelaskan tradisi tukar takir telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat desa dan terus dipertahankan dari generasi ke generasi.
“Warga membawa makanan yang dimasak sendiri lalu ditukar dengan warga lain. Maknanya supaya sesama tetangga tetap guyub rukun dan saling berbagi,” ujarnya.
Selain tradisi tukar takir, masing-masing dusun turut mengarak gunungan berisi sayuran dan berbagai hasil pertanian. Setelah didoakan bersama, hasil bumi tersebut diperebutkan warga yang meyakini simbol keberkahan dari hasil panen yang diperoleh sepanjang tahun.
Menurut Sutoyo, gunungan hasil bumi mencerminkan rasa syukur masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani atas kecukupan hasil pertanian yang mereka nikmati bersama.
“Masyarakat di sini mayoritas petani. Gunungan hasil bumi ini sebagai ungkapan syukur karena hasil pertanian yang ada sudah mencukupi kebutuhan masyarakat dan bisa dinikmati bersama-sama,” papar Sutoyo.
Rangkaian Grebeg Sura juga diisi ritual pamendeman, yakni menanam kembali sebagian hasil bumi ke dalam tanah sebagai simbol harapan agar lahan pertanian tetap subur dan menghasilkan panen melimpah pada musim berikutnya. Tradisi tersebut menunjukkan keterkaitan erat antara budaya lokal dan penghormatan terhadap alam.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Banjarnegara Martoyo menilai nilai filosofis dalam tradisi tukar takir masih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini karena mengajarkan pentingnya musyawarah dan kebersamaan.
“Filosofinya bukan hanya saling bertukar makanan, tetapi juga tukar pikir. Masyarakat diajak untuk rembug atau berdiskusi sehingga menghasilkan kesepakatan yang bisa dijalankan bersama dan tidak menimbulkan perselisihan,” jelas Martoyo.
Ia menambahkan, tradisi berebut gunungan mengandung pesan tentang pentingnya berbagi hasil bumi dan menikmati karunia Tuhan secara bersama-sama.
“Setiap dusun memiliki potensi dan hasil alam yang berbeda-beda. Melalui gunungan ini masyarakat saling berbagi dan menikmati rezeki yang diberikan Allah SWT,” pungkasnya.
Sebagaimana diberitakan Banyumas Ekspres, Rabu (17/06/2026), Grebeg Sura di Desa Kemranggon tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga berpotensi mendukung promosi wisata desa dan menggerakkan perekonomian masyarakat melalui pelestarian tradisi yang masih terjaga hingga kini. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara