BANGLI – Nilai empati dan penghormatan terhadap adat menjadi prioritas masyarakat Desa Adat Penglipuran, Kabupaten Bangli, dalam perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan 2026. Untuk pertama kalinya, desa wisata yang selama ini identik dengan deretan penjor memutuskan tidak memasang penjor di sepanjang jalan utama sebagai bentuk penghormatan kepada salah seorang warga yang meninggal dunia dan masih dalam suasana kedukaan.
Keputusan tersebut menjadikan perayaan Galungan tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meski tanpa penjor yang selama ini menjadi ciri khas desa, masyarakat tetap melaksanakan seluruh rangkaian persembahyangan dengan khidmat sesuai tradisi yang berlaku.
Desa Penglipuran selama ini dikenal sebagai destinasi wisata budaya yang menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara berkat keindahan arsitektur tradisional serta barisan penjor yang menghiasi setiap pekarangan rumah saat Galungan. Namun, masyarakat desa memilih mengedepankan rasa hormat kepada keluarga yang berduka dibanding mempertahankan kemeriahan visual yang biasa ditampilkan.
Keputusan tidak memasang penjor merupakan hasil kesepakatan adat yang mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan, solidaritas, dan kepatuhan masyarakat terhadap aturan adat yang berlaku di desa tersebut, sebagaimana diberitakan Rri pada Selasa (16/06/2026).
Meski suasana perayaan berlangsung lebih sederhana, pengelola desa memastikan kawasan wisata tetap dibuka selama libur Galungan dan Kuningan. Pengunjung masih dapat menikmati keunikan lingkungan desa, arsitektur tradisional Bali, serta kehidupan masyarakat adat yang tetap berjalan seperti biasa.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa makna Hari Raya Galungan tidak hanya tercermin melalui kemegahan penjor, tetapi juga melalui nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sesama yang terus dijaga oleh masyarakat Desa Adat Penglipuran. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara