ACEH TENGGARA – Pembangunan jembatan gantung di Desa Kuning Abadi, Kecamatan Darul Hasanah, Kabupaten Aceh Tenggara (Agara), terus berlanjut melalui tahapan pengecoran pondasi yang dikerjakan secara gotong royong oleh Bintara Pembina Desa (Babinsa) Pos Rayon Militer (Posramil) Ketambe bersama warga. Infrastruktur tersebut menjadi kebutuhan mendesak setelah jembatan lama putus akibat banjir bandang, sehingga mengganggu mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi desa.
Kegiatan pengecoran pondasi dilaksanakan pada Minggu (14/6/2026) sebagai bagian penting dari proses pembangunan jembatan yang akan menghubungkan akses warga. Kehadiran jembatan baru diharapkan dapat memulihkan jalur transportasi yang selama ini menjadi urat nadi masyarakat Desa Kuning Abadi.
Putusnya jembatan akibat banjir bandang menyebabkan warga menghadapi berbagai hambatan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Selain memperpanjang waktu tempuh perjalanan, kondisi tersebut juga berdampak pada akses pendidikan, distribusi hasil pertanian, serta pelayanan sosial bagi masyarakat.
Dalam pelaksanaan pembangunan, Babinsa Posramil Ketambe, Mulyono, bersama warga terlibat langsung mengangkut material, mencampur adukan semen, hingga melakukan pengecoran pondasi. Kegiatan itu menunjukkan kolaborasi antara TNI Angkatan Darat (TNI AD) dan masyarakat dalam mempercepat pembangunan fasilitas umum di desa.
Mulyono mengatakan, keterlibatan TNI dalam pembangunan jembatan merupakan bentuk kepedulian terhadap kebutuhan warga yang terdampak kerusakan infrastruktur.
“Pengecoran pondasi jembatan gantung ini dilaksanakan secara gotong royong sebagai wujud kebersamaan dan kepedulian terhadap pembangunan fasilitas umum yang sangat dibutuhkan masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, selain mempercepat proses pembangunan, juga dapat mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat serta menumbuhkan semangat kebersamaan dalam mengatasi berbagai permasalahan di lingkungan,” ujar Mulyono, sebagaimana diberitakan Kodam Iskandar Muda, Senin (15/06/2026).
Ia menambahkan bahwa budaya gotong royong perlu terus dipertahankan karena mampu mempercepat penyelesaian pekerjaan sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
“Kami berharap semangat kebersamaan seperti ini terus terpelihara. Selain mendukung pembangunan desa, gotong royong juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga sehingga tercipta kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan penuh kekeluargaan,” tambahnya.
Dukungan terhadap pembangunan jembatan juga datang dari warga setempat. Salah seorang warga, Juhri, menyampaikan apresiasi kepada Babinsa dan Komando Distrik Militer (Kodim) 0108/Agara yang dinilai aktif membantu masyarakat sejak jembatan rusak akibat banjir bandang.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak Babinsa dan seluruh jajaran Kodim 0108/Aceh Tenggara yang selalu peduli terhadap kondisi masyarakat. Kehadiran mereka memberikan semangat bagi kami untuk terus bergotong royong membangun jembatan ini. Dengan adanya bantuan dan pendampingan dari TNI, pekerjaan menjadi lebih cepat dan lancar,” ungkap Juhri.
Menurutnya, sejak jembatan terputus, anak-anak sekolah harus melewati jalur alternatif yang lebih jauh, sementara petani mengalami kesulitan mengangkut hasil panen menuju pasar.
Masyarakat berharap pembangunan jembatan gantung dapat segera rampung sehingga akses transportasi kembali normal dan aktivitas sosial maupun ekonomi desa dapat berjalan tanpa hambatan. Keberadaan jembatan tersebut juga diharapkan mendukung peningkatan pendidikan, perekonomian, dan konektivitas antarwilayah di Agara. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara