KENDAL – Inovasi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar ramah guna mulai diterapkan di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Desa Mergorejo, Kecamatan Cempiring, Kabupaten Kendal (Kendal). Teknologi bernama alat pirolisis multikondensor Generasi 5.0 (Faspol 5.0) tersebut diharapkan menjadi solusi pengurangan timbunan sampah sekaligus mendukung kemandirian energi masyarakat desa.
Peluncuran Faspol 5.0 dilakukan oleh Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq di Desa Mergorejo, Kamis (11/6/2026). Teknologi hasil hilirisasi riset tersebut merupakan kolaborasi Pertamina Foundation dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang ditujukan untuk mengolah limbah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar alternatif.
Menurut Hanif, persoalan sampah masih menjadi tantangan besar di Indonesia karena sebagian besar belum dikelola secara optimal dan berpotensi mencemari lingkungan.
“Pengelolaan sampah di Indonesia menjadi tantangan serius karena 74 persen pengelolaannya masih berada sawah-sawah, selokan, dan sungai-sungai sekitar masyarakat. Untuk itu, kita patut berbangga ada inovasi Faspol yang dihadirkan oleh BRIN dan Pertamina Foundation melalui program PFsains yang mampu mengolah sampah plastik low value menjadi bahan bakar minyak terbarukan,” ujarnya, sebagaimana dilansir Seremonia, Jumat, (12/06/2026).
Ia berharap pemanfaatan Faspol 5.0 dapat membantu operasional petani di Desa Mergorejo, menekan biaya produksi, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat desa melalui pemanfaatan limbah yang sebelumnya tidak bernilai.
Dukungan terhadap inovasi tersebut juga disampaikan Bupati Kabupaten Kendal (Kendal), Dyah Kartika Permanasari. Menurutnya, teknologi pengolahan sampah yang memiliki nilai ekonomi dapat membantu daerah dalam membangun sistem pengelolaan lingkungan yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Faspol 5.0 merupakan karya peneliti BRIN, Tri Martini Patria, yang sebelumnya menjadi pemenang Program Pertamina Foundation Science Competition (PFsains) tahun 2025. Inovasi tersebut menghasilkan minyak berbahan baku limbah plastik yang dikenal sebagai Petasol dan diharapkan mampu mengurangi beban tempat pembuangan akhir yang mengalami kelebihan kapasitas.
“Berkat program PFsains, kami mampu menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kemandirian energi lewat produksi minyak (Petasol) dari limbah dan menangani tumpukan sampah plastik low value agar tidak berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) yang sudah mengalami overload,” ungkap Tri Martini.
Program PFsains sendiri merupakan kompetisi inovasi teknologi yang berfokus pada hilirisasi riset, penerapan teknologi tepat guna, serta pemberdayaan masyarakat berbasis ketahanan pangan dan energi. Sejak 2020 hingga 2025, program tersebut telah melibatkan 45 inovator dengan berbagai bidang pengembangan, mulai dari perikanan, pertanian, pengelolaan limbah, peternakan, fasilitas umum, kendaraan listrik, hingga sektor industri.
Pada 2026, PFsains kembali dibuka dengan tema “Masyarakat Berdikari Berbasis Ketahanan Pangan dan Energi melalui Inovasi Teknologi Berkelanjutan”. Kompetisi tersebut ditujukan bagi mahasiswa, akademisi, dan peneliti melalui kategori ide awal maupun implementasi teknologi yang siap diterapkan di masyarakat.
Perwakilan Pertamina Foundation, Agus, menegaskan bahwa program tersebut tidak hanya memberikan dukungan pendanaan, tetapi juga pendampingan agar hasil riset dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
“PFsains tidak hanya memberikan pendanaan, tetapi juga pendampingan proses agar inovasi teknologi yang dikembangkan dapat dikelola dengan efektif, berkelanjutan, dan betul-betul serius membantu masyarakat marginal agar bisa menjadi mandiri,” ucap Agus.
Kehadiran Faspol 5.0 di Desa Mergorejo diharapkan menjadi contoh penerapan hasil riset yang mampu menjawab persoalan lingkungan sekaligus mendorong pembangunan ekonomi desa berbasis inovasi dan keberlanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara