BANYUMAS – Kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fiskal dan ekonomi nasional dinilai menjadi salah satu faktor yang terus menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sejumlah program pemerintah dengan kebutuhan anggaran besar, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, disebut turut menjadi perhatian investor.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai hingga saat ini belum terdapat kebijakan yang cukup kuat untuk mengembalikan kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah masih berlanjut.
Menurut Ibrahim, pasar menaruh perhatian terhadap besarnya kebutuhan pembiayaan sejumlah program strategis pemerintah yang berpotensi memperlebar defisit neraca transaksi berjalan.
“Harga minyak yang tinggi membuat kebutuhan dolar AS tinggi dan membuat utang pemerintah semakin membengkak,” katanya.
Selain faktor domestik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi kondisi eksternal. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah terjadinya konflik yang melibatkan Israel, Lebanon, dan Iran, sehingga memicu ketidakpastian di pasar global.
Dalam situasi tersebut, Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah masih berpotensi bergerak melemah pada kisaran Rp18.180 hingga Rp18.230 per dolar AS.
Pada perdagangan Jumat, 8 Juni 2026, rupiah tercatat melemah 151 poin dan ditutup di level Rp18.187 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang nasional masih cukup kuat di tengah kombinasi faktor global dan domestik.
Perkembangan nilai tukar rupiah menjadi perhatian berbagai pihak karena berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi, biaya impor, serta daya beli masyarakat. Informasi tersebut sebagaimana diberitakan Tribun Banyumas, Selasa (09/06/2026). []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara