KEBUMEN – Pelatihan teknologi navigasi bagi nelayan di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Jatimalang menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi penangkapan ikan. Melalui program tersebut, nelayan yang tergabung dalam Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) mulai diperkenalkan dengan penggunaan Global Positioning System (GPS) dan teknologi pendukung pencarian ikan.
Program pelatihan yang berlangsung di KNMP Jatimalang, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, itu memberikan pengetahuan baru bagi nelayan yang selama ini mengandalkan pengalaman dan tanda-tanda alam saat melaut. Kegiatan tersebut sebagaimana dilansir Satusuaraexpress, Sabtu, (23/05/2026).
Salah seorang nelayan, Suwarjio, mengaku pelatihan tersebut membuka wawasan baru dalam menentukan lokasi penangkapan ikan secara lebih akurat.
“Pelatihan GPS sama GSEV. GSEV itu apa? Pelatihan baca GPS itu untuk apa? Tujuannya jelas, untuk mengetahui keberadaan ikan, agar memudahkan kami mencari ikan di tengah laut,” ujarnya.
Suwarjio menjelaskan selama bertahun-tahun dirinya mencari ikan dengan metode tradisional. Posisi bulan, arah matahari, serta kondisi pasang surut air laut menjadi pedoman utama saat menentukan lokasi penangkapan.
“Kami hanya mengandalkan tanda alam saja, tidak ada ukuran pasti. Kalau bulan terbit jam sekian, terbenam jam sekian, di situlah patokan kami mencari,” kenangnya.
Setelah memperoleh pelatihan penggunaan GPS, menurutnya proses pencarian ikan menjadi lebih mudah dan terarah. Teknologi tersebut dinilai mampu membantu nelayan mengurangi waktu pencarian sekaligus meningkatkan peluang mendapatkan hasil tangkapan.
“Cara kerjanya? Alat ini memudahkan sekali. Kami sudah mencoba, dan benar saja, ketemu ikan sesuai yang tertera di alat. Di layar langsung terlihat gambar ikan, kami langsung menuju titik itu, dan benar-benar ada ikan di sana,” cerita Suwarjio dengan nada puas.
Selain mempermudah pencarian ikan, teknologi navigasi tersebut juga membantu menghemat penggunaan bahan bakar. Nelayan tidak lagi harus berkeliling dalam waktu lama untuk menemukan lokasi potensial penangkapan ikan.
Meski demikian, harga perangkat yang mencapai belasan juta rupiah masih menjadi kendala bagi sebagian besar nelayan untuk memiliki alat tersebut secara mandiri.
“Harganya belasan juta rupiah, itu terlalu mahal buat kami. Jadi kami baru sekadar tahu dan mencoba pelatihannya saja, belum mampu membelinya,” ungkapnya.
Para nelayan juga menyambut positif pembangunan kawasan KNMP yang diharapkan segera beroperasi penuh untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
“Secara pribadi dan bersama teman-teman, kami sangat senang dengan adanya program ini. Memang sampai sekarang belum beroperasi penuh, jadi kami belum bisa melihat bukti nyatanya, baru rencana saja. Tapi kami menanti,” ujar Suwarjio.
Saat ini hasil tangkapan nelayan masih dipasarkan melalui Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan didistribusikan oleh para pengepul. Kehadiran fasilitas KNMP diharapkan dapat memperkuat rantai usaha perikanan sekaligus meningkatkan kesejahteraan nelayan.
“Semua kebutuhan kami, mulai dari alat bantu cari ikan sampai tempat olah dan jual, kami harapkan terpenuhi. Supaya kami tidak lagi bingung mencari arah, hemat biaya, dan ekonomi keluarga kami pun semakin membaik,” tutupnya.
Pelatihan teknologi navigasi dan pengembangan kawasan nelayan tersebut diharapkan menjadi fondasi penguatan ekonomi desa pesisir melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, efisiensi usaha penangkapan ikan, dan penguatan koperasi nelayan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara