BIMA – Warga Desa Teta dan Desa Kaowa, Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima, bergotong royong membangun jembatan darurat setelah akses penghubung utama antardesa tersebut amblas dan tidak dapat dilalui kendaraan roda empat selama sekitar lima bulan terakhir.
Aksi swadaya ini dilakukan sebagai respons atas lambatnya penanganan perbaikan infrastruktur oleh pihak terkait, sekaligus untuk memulihkan kembali mobilitas warga yang terganggu, terutama dalam akses ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan. Jembatan yang menjadi satu-satunya jalur penghubung kedua desa itu sebelumnya dilaporkan tidak lagi aman dilalui, bahkan kendaraan roda dua pun sempat kesulitan melintas.
Warga bersama para pengemudi lokal kemudian berinisiatif memasang material kayu berukuran besar untuk membuat konstruksi darurat agar kendaraan roda empat kembali bisa melewati jalur tersebut. Upaya ini dilakukan secara kolektif di lapangan tanpa menunggu proyek perbaikan resmi.
Fahrul Ramadan, pemuda Desa Kaowa menyampaikan, jika menunggu proyek perbaikan jembatan dari pemerintah, maka belum jelas kapan akan dilaksanakan. Kondisi jembatan yang amblas sudah lima bulan. Sebagaimana dilansir Bimakini, Jumat, (17/4/2026).
Fahrul mengeritik sikap lamban pemerintah dalam merespon kerusakan jembatan tersebut. Apalagi keberadaannya sangat vital. Menjadi satu-satunya akses jalan yang menghubungkan Desa Kaowa dengan Desa Teta.
“Pertanyaannya, kalau menunggu proyek dari pemerintah kapan? Selama kurang lebih lima bulan ini rakyat sangat sulit melangsungkan transportasi, terutama roda empat. Artinya, ekonomi terancam, pasien yang dibawa ke Puskesmas atau RSUD bisa tambah kritis,” ujarnya, Rabu 17 April 2027.
Menurut warga, kondisi jalan darurat ini bukan hanya soal kenyamanan mobilitas, tetapi juga menyangkut keselamatan dan kecepatan akses layanan kesehatan bagi masyarakat dua desa tersebut. Jembatan itu juga menjadi jalur penting distribusi hasil pertanian dan kebutuhan harian warga.
Dengan adanya gotong royong ini, warga berharap akses sementara bisa terus berfungsi sambil menunggu langkah penanganan permanen dari pemerintah daerah. Perbaikan darurat ini juga menjadi simbol kuatnya solidaritas warga di wilayah pedesaan ketika menghadapi keterbatasan infrastruktur.
Ke depan, masyarakat berharap ada percepatan pembangunan jembatan permanen agar akses antar Desa Teta dan Kaowa kembali normal dan tidak lagi bergantung pada solusi sementara yang rawan rusak. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara