TULUNGAGUNG – Pemerintah Desa (Pemdes) Tambakrejo, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, memperkuat strategi pencegahan stunting melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang menyasar berbagai kelompok masyarakat, mulai dari balita, ibu hamil, lansia, hingga keluarga berisiko stunting. Program ini menjadi bagian dari layanan kesehatan desa yang dijalankan secara rutin setiap bulan sebagai upaya peningkatan kualitas gizi masyarakat.
Program PMT di Desa Tambakrejo tidak hanya berfokus pada distribusi makanan bergizi, tetapi juga mencakup edukasi gizi, pemantauan kesehatan, serta pendampingan keluarga oleh kader kesehatan. Skema layanan terpadu ini dirancang untuk memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat desa sekaligus menekan angka stunting yang masih menjadi isu nasional.
Sekretaris Desa (Sekdes) Tambakrejo, M. H. Ibnu Febrian, menegaskan bahwa program PMT Posyandu memiliki peran penting dalam menjaga tumbuh kembang anak sejak dini.
“Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Posyandu penting untuk meningkatkan status gizi balita dan mencegah stunting,” ujar Mifta, sapaan akrabnya pada Senin (13/4/2026).
Program PMT untuk balita usia 0 hingga 59 bulan tersebut dilaksanakan di tiga titik layanan berbeda di Desa Tambakrejo. Di Dusun Tambak Kembang, kegiatan digelar di rumah Ketua RT Saiful dengan sekitar 70 peserta yang didampingi lima kader kesehatan. Lokasi kedua berada di Balai Desa Tambakrejo, Dusun Tambak Sumber, dengan jumlah peserta serupa dan pendampingan kader yang sama aktifnya. Sementara itu, lokasi ketiga di Dusun Tambak Duwet melibatkan 57 peserta dengan dukungan lima kader.
Menu tambahan yang diberikan dalam program ini meliputi sari kedelai, telur puyuh rebus, dan kacang hijau dengan alokasi anggaran sekitar Rp10 ribu per porsi yang dapat disesuaikan dengan pajak dan kebutuhan lapangan.
Selain layanan balita, Desa Tambakrejo juga mengembangkan konsep Taman Posyandu sebagai inovasi layanan kesehatan berbasis komunitas yang mengintegrasikan Posyandu, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan Bina Keluarga Balita (BKB). Konsep ini memungkinkan orang tua tidak hanya mendapatkan layanan kesehatan, tetapi juga edukasi pola asuh dan stimulasi tumbuh kembang anak.
“Selain layanan balita, Desa Tambakrejo juga mengembangkan Taman Posyandu,” jelas Mifta.
Di luar itu, program PMT Posbindu juga dijalankan untuk kelompok usia dewasa dan pra-lansia. Kegiatan ini dilaksanakan secara bergilir di rumah Ketua RT dengan rata-rata 50 peserta setiap kegiatan serta didampingi lima kader kesehatan.
“PMT Posbindu dilaksanakan setiap Kamis pada minggu pertama setiap awal bulan. Program ini menjadi sarana penting untuk menjaga kesehatan masyarakat usia produktif dan usia pra-lansia,” lanjut Sekdes Tambakrejo.
Sementara untuk lansia, program PMT Lansia digelar melalui Posyandu lansia dengan fokus pada pemberian makanan bergizi serta pemeriksaan kesehatan rutin seperti gula darah, kolesterol, asam urat, dan tekanan darah. Program ini diikuti lebih dari 60 peserta dan dilaksanakan setiap Jumat pada minggu pertama setiap bulan.
Upaya pencegahan stunting juga diperkuat melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang terdiri dari enam kader. Tim ini bertugas mendampingi ibu hamil, balita, hingga calon pengantin dalam mengakses layanan kesehatan serta memberikan edukasi gizi dan pola asuh.
Pendampingan oleh TPK dilakukan secara fleksibel sesuai kondisi lapangan, menjadikan program ini sebagai bagian dari pendekatan menyeluruh Pemerintah Desa Tambakrejo dalam membangun masyarakat yang lebih sehat dan bebas stunting. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara