ACEH TENGAH – Lima desa di Kabupaten Aceh Tengah kembali terisolasi setelah jembatan darurat yang menjadi akses utama warga putus diterjang banjir susulan sejak Senin (6/4/2026). Kondisi ini menyebabkan jalur transportasi tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat, sehingga menghambat aktivitas dan distribusi kebutuhan masyarakat.
Desa yang terdampak meliputi Desa Terang Engon di Kecamatan Silih Nara serta Desa Burlah, Buge Ara, Kekuyang, dan Bintang Pepara di Kecamatan Ketol. Seluruh desa tersebut mengalami keterisolasian akibat rusaknya jembatan darurat yang sebelumnya dibangun pascabencana banjir pada November 2025.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, Andalika, menyampaikan bahwa kerusakan kembali terjadi pada sejumlah jembatan yang menjadi akses vital masyarakat.
“Akses jembatan putus lagi, sehingga menyebabkan terisolirnya Desa Terang Engon Kecamatan Silih Nara, serta beberapa desa di Kecamatan Ketol seperti Desa Burlah, Buge Ara, Kekuyang, dan Bintang Pepara,” ujarnya.
Selain jembatan darurat di Terang Engon, kerusakan juga terjadi pada Jembatan Simpil di Kecamatan Linge serta Jembatan Berawang Gajah, yang memperparah kondisi infrastruktur di wilayah tersebut.
Menanggapi situasi ini, Kepala Posko Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) wilayah Aceh, Safrizal ZA, menyatakan bahwa pemerintah tetap berupaya memenuhi kebutuhan warga meski akses transportasi terganggu.
“Wilayah terisolir ini masih belum bisa dilalui kendaraan berat, tapi kami akan penuhi semua kebutuhan di lima desa tersebut,” ujarnya.
Pemerintah juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menyiagakan alat berat di lokasi terdampak guna mempercepat perbaikan akses.
“Tim PU siaga di tempat, jika akses yang terputus tadi malam diperbaiki, dan jika terputus lagi, kami akan perbaiki lagi,” ujarnya.
Kondisi ini berdampak pada berbagai sektor, mulai dari distribusi logistik, layanan kesehatan, hingga aktivitas pendidikan dan ekonomi masyarakat. Hingga saat ini, proses penanganan masih menghadapi tantangan berupa curah hujan tinggi dan kondisi geografis yang sulit.
Peristiwa ini menunjukkan pentingnya pembangunan infrastruktur yang lebih kuat dan berkelanjutan di wilayah rawan bencana agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara