BLORA – Tradisi tahunan Manganan Janjang di Desa Janjang, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora (Blora), Jawa Tengah (Jateng), resmi mengukuhkan posisinya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sekaligus memperkuat status desa tersebut sebagai Desa Budaya, menyusul penyerahan sertifikat dan piagam penghargaan pada Jumat (27/3/2026).
Penetapan itu ditandai dengan penyerahan sertifikat dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia nomor 169/WB/KB.00.01/2025 tentang Manganan Janjang sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, serta Surat Keputusan (SK) Bupati Blora nomor 400.6/487/2025 tentang penetapan Desa Janjang sebagai Desa Budaya.
Bupati Blora, Arief Rohman, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut menyatakan bahwa pengakuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat pelestarian tradisi sekaligus mendorong dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. “Ini sudah paten dan harus terus kita lestarikan Manganan Janjang ini. Selain menjadi daya tarik wisata religi, juga bisa menjadi pendorong bangkitnya perekonomian desa,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga memperlihatkan dampak ekonomi langsung dengan hadirnya ratusan pedagang yang memanfaatkan momentum keramaian. Area permukiman warga hingga fasilitas umum pun dimanfaatkan sebagai lahan parkir sementara.
“Luar biasa Manganan Janjang ini. Menjadi tradisi budaya sedekah bumi yang paling ramai, paling banyak pengunjungnya di Kabupaten Blora. Potensinya bagus untuk menggerakkan ekonomi desa. Semoga kedepan bisa ditata lebih baik oleh Pak Kades Janjang,” kata Arief.
Kepala Desa (Kades) Janjang, Ngasi, mengungkapkan bahwa penyelenggaraan tahun ini mengalami peningkatan jumlah pengunjung dibandingkan tahun sebelumnya, bahkan menarik kedatangan warga dari luar daerah. “Alhamdulillah tahun ini lebih ramai dibandingkan tahun lalu. Tidak hanya warga Blora saja yang hadir. Ada dari Jawa Timur bahkan Jawa Barat. Manganan Janjang ini diselenggarakan setiap Jumat Pon setelah Lebaran Idul Fitri setiap tahunnya. Terimakasih juga atas hadirnya Pak Bupati dan rombongan. Semoga membawa keberkahan untuk desa kami. Cuacanya juga cerah, tidak hujan, semoga desa kami jauh dari pagebluk,” ungkap Ngasi sebagaimana diberitakan Suarabaru, Jumat (27/03/2026).
Tradisi ini tidak hanya menjadi ritual budaya, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan masyarakat melalui kegiatan berbagi makanan kepada pengunjung. Ribuan warga dari berbagai daerah turut serta membawa ambeng ingkung ayam dan nasi berkat untuk dibagikan secara gratis setelah prosesi ziarah di kompleks makam Mbah Janjang.
Selain itu, Pemerintah Desa (Pemdes) Janjang juga menyembelih hewan ternak seperti sapi dan kambing yang kemudian diolah dan dibagikan kepada para peziarah. Seluruh makanan disajikan menggunakan daun jati sebagai pembungkus, yang menjadi ciri khas tradisi tersebut.
Salah satu pengunjung asal Kabupaten Bojonegoro, Sumirah, mengaku rutin menghadiri acara tersebut. “Sudah enam kali saya ikut Manganan di Janjang ini. Awalnya dulu ingin ziarah sekaligus cari nasi berkat yang dibungkus daun jati rasanya sedap mas. Namun belakangan ini saya ikut menyerahkan ambeng ingkung untuk dibagikan bersama. Idep-idep ikut bersedekah untuk sesama. Acaranya bagus kok, semuanya kelihatan guyub rukun,” ucapnya.
Pengunjung lainnya, Radit asal Kabupaten Rembang, juga mengaku terkesan dengan antusiasme masyarakat. “Tadinya penasaran karena diceritain saudara. Nah kebetulan ini tadi pas main ke Blora sekalian saja ke Janjang. Bagus sih tradisinya masih kuat. Meskipun letaknya pelosok, ternyata pengunjungnya ribuan dari berbagai daerah. Jalannya juga sudah bagus, suasananya seger adem di komplek sini. Betah rasanya,” ujarnya.
Wakil Bupati (Wabup) Blora, Sri Setyorini, yang turut hadir, menilai potensi tradisi ini sangat besar untuk dikembangkan. “Sering beberapa kali ke Janjang. Tapi acaranya lain. Kalau untuk Manganan Janjang baru kali ini. Ternyata ramai sekali. Potensinya luar biasa. Tadi saya juga dapat berkat bungkus daun jati rasanya enak khas ndeso ngangeni. Tahun depan pasti akan kesini lagi. Keren Janjang,” ujarnya.
Selain prosesi utama, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni wayang krucil yang menjadi bagian dari warisan budaya lokal. Tradisi ini diharapkan terus berkembang sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi berbasis kearifan lokal di Blora. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara