JAKARTA – Transformasi citra kawasan favela di Rio de Janeiro, Brasil, mulai menunjukkan dampak signifikan setelah pemerintah setempat menjadikannya sebagai strategi baru dalam pengembangan pariwisata berbasis komunitas.
Kawasan permukiman padat yang sebelumnya kerap dipandang sebagai daerah miskin dan rawan kekerasan, kini dipromosikan sebagai destinasi wisata budaya melalui peluncuran serial dokumenter oleh lembaga pariwisata Brasil, Embratur. Tayangan ini menghadirkan sudut pandang berbeda dengan menampilkan kehidupan autentik masyarakat di enam favela utama, yakni Vidigal, Rocinha, Santa Marta, Providência, Mangueira, dan Chapéu.
Diproduksi oleh 15 kru yang berasal dari komunitas lokal, dokumenter tersebut mengangkat nilai seni, budaya, serta keseharian warga yang selama ini jarang terekspos. Pendekatan ini dinilai mampu mengubah persepsi wisatawan terhadap favela.
Presiden Embratur, Marcelo Freixo, menegaskan pentingnya peran masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata. “Pariwisata di favela harus dipimpin oleh orang-orang yang tinggal di sana. Itulah yang menghasilkan dampak nyata pada ekonomi lokal dan mengubah cara dunia melihat Brasil,” katanya.
Serial dokumenter yang terdiri dari tiga episode ini pertama kali diperkenalkan dalam ajang pameran pariwisata di Lisbon pada Februari 2026. Dalam kesempatan tersebut, pelaku usaha kecil dari kawasan favela juga dilibatkan dalam stan resmi pemerintah Brasil, menandai langkah awal integrasi ekonomi lokal ke sektor pariwisata nasional.
Dampak positif mulai terlihat dari meningkatnya minat wisatawan internasional terhadap tur berbasis komunitas. Koperasi di Chapéu Mangueira mencatat kenaikan permintaan kunjungan yang lebih mengedepankan interaksi langsung dengan warga dibandingkan penggunaan pemandu eksternal.
Upaya penguatan sektor ini juga dilakukan melalui program “Made in Brasil” yang digagas Embratur bersama organisasi pembangunan sosial CIEDS. Program tersebut mencakup pelatihan branding, lokakarya inovasi, hingga inkubasi bisnis bagi komunitas di Rio de Janeiro, Salvador, dan Recife.
Selain itu, proyek “Rocinha Mundo Afora” turut mendorong integrasi favela ke dalam katalog perjalanan operator tur internasional. Sementara program “Laboratorio de Encantadores” bekerja sama dengan Universidade Federal Fluminense untuk melatih pemandu wisata dan pengemudi lokal.
Seiring dengan strategi tersebut, jumlah kunjungan wisatawan asing ke Rio de Janeiro mengalami peningkatan signifikan. Pada 2025, kota ini mencatat 2,19 juta turis internasional atau naik 43,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Tren positif berlanjut pada Januari 2026 dengan kenaikan sebesar 17 persen.
Transformasi favela sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan komunitas diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus mengubah stigma global terhadap kawasan tersebut. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara