Kebijakan Pusat Pangkas Dana Desa Wonogiri

WONOGIRI DESA NUSANTARA Rencana pemangkasan anggaran alat tulis kantor (ATK) imbas berkurangnya dana transfer pusat (TKD) dinilai bukan sekadar langkah penghematan. Akademisi menilai kebijakan itu seharusnya menjadi momentum akselerasi transformasi layanan digital di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Batu.

Menurut Pakar Kebijakan Publik Universitas Brawijaya (UB) Andhyka Muttaqin, pemangkasan belanja ATK hingga 50 persen pada tahun 2026 nanti bukanlah masalah jika diiringi dengan peningkatan sistem kerja digital. Sebab, itu bisa membuat kebutuhan kertas, pena, hingga tinta printer jauh menurun.

“Seiring berkembangnya teknologi, hampir semua proses administrasi sudah beralih ke sistem digital. Fungsi ATK tidak lagi sebesar dulu,” ujarnya. Ia menilai sebagian besar alat tulis fisik bisa dihapuskan. Pasalnya, itu bisa digantikan sistem elektronik seperti e-office, tanda tangan digital, dan surat menyurat berbasis e-mail.

Namun di sisi lain, ia menyoroti budaya kerja konvensional yang masih kuat di beberapa instansi. Misalnya, pos belanja penggandaan dokumen dalam APBD 2025 di satuan kerja tertentu yang masih mencapai Rp56 juta. “Artinya, digitalisasi belum sepenuhnya berjalan efektif,” kata Andhyka.

Ia menyarankan Pemkot Batu menetapkan standar penggunaan ATK di setiap perangkat daerah. Misalnya, dengan batas pemakaian bulanan dan laporan pertanggungjawaban yang transparan. Selain itu, pembelian ATK sebaiknya dipusatkan agar harga lebih seragam dan efisien. “Belanja ATK bisa ditekan tanpa mengorbankan kinerja,” ungkapnya.

Sayangnya, hal itu bisa tercapai hanya bila birokrasi berani bertransformasi. Sebab, sistem digital jauh lebih cepat dan hemat. Menurut Andhyka, digitalisasi tak hanya memangkas biaya tetapi juga meningkatkan transparansi. Setiap dokumen elektronik meninggalkan jejak digital yang dapat diaudit kapan saja.

Namun, keberhasilan sistem ini bergantung pada dua faktor utama. Yakni kompetensi SDM dan kesiapan sarana prasarana teknologi. “Banyak aparatur yang masih gagap teknologi. Pemerintah perlu melakukan pelatihan intensif agar mereka mampu mengoperasikan sistem digital,” ujarnya.

Andhyka juga menekankan pentingnya server dan jaringan yang andal agar pelayanan publik tak terganggu. “Transformasi digital bukan sekadar hemat anggaran, tapi juga bagian dari reformasi birokrasi yang cerdas dan akuntabel,” tambahnya.

REDAKSI01-ALFIAN

About redaksi01

Check Also

Bupati Mamasa Kunjungi Korban Kebakaran di Desa Sibanawa

PDF đź“„MAMASA, DESA – NUSANTARA: Bupati Kabupaten Mamasa, Welem Sambolangi, SE., MM., mengunjungi lokasi kebakaran …

Wabup Bone Kunjungi Korban Kebakaran di Desa Carebbu

PDF đź“„BONE, DESA – NUSANTARA: Wakil Bupati Bone, Andi Akmal Pasluddin, turun langsung mengunjungi warga …

Desa Pagelaran Resmi Lantik 36 Ketua RT dan RW Terpilih

PDF đź“„CIANJUR, DESA – NUSANTARA: Pemerintah Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, resmi melantik para …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *