Air Bersih Menipis, Pemerintah Siapkan Pipanisasi untuk 3 Desa Mojokerto

MOJOKERTO – Krisis air bersih masih membayangi tiga desa di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, meski bantuan distribusi air dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) dijadwalkan berakhir pada 11 September 2026. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto menyiapkan jaringan pipanisasi sebagai solusi jangka panjang agar warga tidak terus bergantung pada pasokan air menggunakan tangki saat musim kemarau.

Tiga wilayah yang masih mengalami keterbatasan air berada di Kecamatan Ngoro dan Kecamatan Trawas, yakni Desa Kunjorowesi, Desa Manduro Manggung Gajah, dan Desa Duyung. Di tengah penurunan debit sejumlah sumber mata air akibat kemarau berkepanjangan, distribusi air bersih tetap dilakukan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mojokerto mencatat bantuan dari BPBD Jatim berupa 300 tangki air bersih telah disalurkan sejak 22 Juli 2026. Hingga saat ini, bantuan tersebut masih menjadi salah satu penopang kebutuhan warga di wilayah terdampak.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Mojokerto Rinaldi Rizal Sabirin mengatakan distribusi air diprioritaskan ke wilayah yang mengalami kekeringan. Dalam keterangannya, sebagaimana diberitakan Tribunjatim, Minggu (6/9/2026), ia menyebut bantuan dari Pemprov Jatim diberikan setiap hari hingga September.

“Jumlah 300 tangki [air bersih] untuk membantu warga terdampak krisis [air bersih] di Kabupaten [Mojokerto],” ucap Rinaldi, Minggu (6/9/2026).

Di Desa Kunjorowesi, empat tangki dengan kapasitas masing-masing 4.000 liter dikirim setiap hari. Desa Manduro Manggung Gajah memperoleh satu tangki berkapasitas 4.000 liter, sedangkan Desa Duyung mendapat dua tangki dengan kapasitas masing-masing 4.000 liter.

Rinaldi menegaskan penanganan kebutuhan air tidak akan berhenti setelah bantuan Pemprov Jatim selesai. Pemerintah daerah akan melanjutkan distribusi sesuai kebutuhan dan instruksi Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa.

“Bantuan [air bersih], BPBD berkolaborasi dengan Pemprov Jatim mendapatkan bantuan dropping [air bersih] setiap hari sampai September 2026 ini. Nah, jika sudah bantuan dari Provinsi sudah selesai maka akan dilanjutkan oleh BPBD Kabupaten [Mojokerto],” jelasnya.

Distribusi tersebut juga didukung perusahaan swasta, lembaga, kelompok masyarakat, serta Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Mojopahit Mojokerto. Perumdam mengerahkan dua armada truk tangki yang masing-masing memiliki kapasitas 4.000 liter.

“Untuk armada 2 truk tangki masing-masing kapasitas 4.000 liter dari Perumdam. Biasanya, bantuan selama satu bulan dan dapat diperpanjang sesuai usulan dari BPBD,” jelas M Harianto.

Selain bantuan darurat, pemerintah menyiapkan jaringan pipanisasi dari sumber air di Trawas menuju Desa Kunjorowesi dan Desa Manduro Manggung Gajah. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan warga terhadap pengiriman air menggunakan tangki setiap kali kemarau terjadi.

Untuk Desa Duyung, sumber mata air dari Desa Ketapanrame, Trawas, telah tersedia. Namun, pemanfaatannya masih terkendala biaya pembangunan jaringan pipa.

“Kami berupaya mencarikan bantuan Desa Duyung, untuk dapat melaksanakan program pipanisasi. Kami mencoba mendorong pusat, dengan harapan bisa mendapatkan bantuan pipanisasi untuk Desa Duyung,” tukas Rinaldi.

Bagi warga Desa Kunjorowesi, keterbatasan air bukan persoalan baru. Imroatus (34), warga Dusun Kandangan, mengatakan masyarakat selama ini memanfaatkan air hujan dan aliran pipa dari Trawas yang tersedia secara terbatas.

“Memang tidak air di sini, apalagi pas musim kemarau. Kalau pas musim hujan airnya ambil dari tadah hujan disimpan dalam wadah tandon. Musim hujan atau normal ada air dari pipa Trawas itupun kecil dan bergantian setiap 11 hari sekali dengan warga sini,” ucap Imroatus.

Menurut Imroatus, pasokan air dari pipa Trawas tetap terbatas bahkan ketika kondisi mulai normal. Karena itu, warga harus mengatur penggunaan air dan mengandalkan bantuan distribusi dari Pemkab Mojokerto selama krisis berlangsung.

“Semoga permasalahan kebutuhan [air bersih] setiap hari di desa kami segera bisa teratasi, kami sangat berharap dengan pemerintah ini. Meksipun aliran kecil, yang penting ada apalagi kita kesulitan air saat musim kemarau,” ucap Imroatus saat dijumpai di lokasi.

Ia mengatakan distribusi air dari Pemkab Mojokerto dilakukan secara bergiliran untuk memenuhi kebutuhan warga, termasuk untuk fasilitas ibadah.

“Dapat bantuan dropping [air bersih] dari [Pemkab Mojokerto], setiap hari tapi giliran per RT dan sebagian untuk musala di sini. Pengirimannya di setiap tandon, dan selalu ada setiap hari,” tutupnya.

Pembangunan jaringan pipanisasi menjadi langkah yang diharapkan dapat memberikan kepastian pasokan air bagi warga dalam jangka panjang. Dengan solusi tersebut, kebutuhan air masyarakat di tiga desa diharapkan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bantuan tangki ketika musim kemarau berlangsung. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Abu Vulkanik Tebal Menyebar ke Utara hingga Selatan Cianjur

PDF 📄CIANJUR – Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau menyelimuti sebagian besar wilayah Kabupaten …

PLTP Bora Pulu Dikebut, Lahan Ditarget Rampung 2027

PDF 📄SIGI – Percepatan penyelesaian lahan menjadi fokus Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi untuk mendukung pembangunan …

27 Mata Air Dijaga, Kearifan Karang Bajo Dipuji Putri Victoria

PDF 📄LOMBOK UTARA – Kearifan masyarakat Desa Adat Karang Bajo Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *