JAKARTA – Program penyediaan air bersih yang digagas Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) berkembang menjadi gerakan nasional untuk mendukung kebutuhan sanitasi hingga ketahanan pangan di berbagai wilayah pedesaan Indonesia. Hingga 2026, TNI AD tercatat telah membangun 7.217 titik sumber air yang tersebar di sejumlah daerah pelosok, mulai dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, hingga Sumatera Utara (Sumut).
Program bertajuk TNI Manunggal Air tersebut diperluas tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, tetapi juga mendukung pengairan lahan pertanian di desa-desa yang selama ini bergantung pada sawah tadah hujan.
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Maruli Simanjuntak mengatakan persoalan air menjadi akar dari berbagai masalah sosial di wilayah terpencil, seperti kemiskinan, sanitasi buruk, hingga tingginya angka stunting atau tengkes.
”Selama perjalanan di tentara, kita banyak ke daerah. Kita lihat banyak punya masalah: miskin, stunting, lahan tidak bisa dikelola dengan baik. Saya melihat akar persoalannya adalah air. Begitu air ada, efek domino positifnya langsung berjalan. Kesehatan membaik, sanitasi bagus, dan warga bisa membuka ladang pertanian,” ujar Maruli sebagaimana diberitakan Poskotaonline, Senin (18/05/2026).
Program tersebut bermula ketika Maruli menjabat Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) IX/Udayana pada periode 2020-2022. Saat bertugas di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT, ia menemukan banyak warga desa harus berjalan beberapa kilometer melewati perbukitan demi mendapatkan air bersih.
Untuk mengatasi persoalan itu, TNI AD memanfaatkan teknologi Pompa Hidram (Hydraulic Ram), yakni pompa mekanis yang mampu bekerja tanpa listrik maupun bahan bakar minyak (BBM). Teknologi tersebut menggunakan tekanan air untuk mengalirkan air dari sumber rendah menuju permukiman di dataran tinggi.
Dalam pelaksanaannya, prajurit TNI AD memasang jaringan pipa High-Density Polyethylene (HDPE) guna menyalurkan air bersih langsung ke penampungan warga desa.
Seiring waktu, program tersebut berkembang menjadi gerakan nasional dengan dukungan berbagai pihak, termasuk badan usaha milik negara (BUMN), perusahaan swasta melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), lembaga zakat, dan yayasan kemanusiaan.
Maruli menjelaskan strategi kolaborasi menjadi kunci utama efisiensi program tersebut.
”Kita harus jujur, TNI AD memiliki power dalam arti positif. Kita punya jalur komunikasi yang baik dengan banyak elemen: BUMN, perusahaan swasta melalui dana CSR, lembaga zakat, hingga yayasan kemanusiaan. Itulah yang membuat seluruh proyek ini berbiaya sangat rendah (low cost),” ungkapnya.
Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, program air bersih itu juga diarahkan untuk mendukung produktivitas pertanian desa. Salah satu implementasinya dilakukan di Desa Tarabunga, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba, Sumut, melalui pembangunan 50 titik sumber air bersih untuk mengairi ratusan hektare sawah masyarakat.
”Keberadaan 50 titik sumber air bersih ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama dalam hal sanitasi dan produktivitas pertanian. Di wilayah Toba ini baru langkah awal, kita akan lakukan terus,” tegas Maruli.
Tidak hanya fokus pada sumber air, TNI AD juga mengembangkan inovasi lingkungan berupa perahu ponton pengangkut sampah untuk membantu menjaga kebersihan kawasan Danau Toba. Tiga unit perahu tersebut telah diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Toba, Pemkab Samosir, dan Pemkab Simalungun.
Di lapangan, Bintara Pembina Desa (Babinsa) menjadi ujung tombak pelaksanaan program dengan membantu survei sumber air, pengangkutan material, hingga pembangunan instalasi bersama masyarakat desa.
Program TNI Manunggal Air dinilai memberi dampak langsung terhadap kualitas hidup masyarakat desa, mulai dari akses sanitasi, kesehatan keluarga, hingga peningkatan hasil pertanian yang berpengaruh pada kesejahteraan warga. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara