KLUNGKUNG – Kelangkaan gas elpiji bersubsidi 3 kilogram di Kabupaten Klungkung, Bali, dalam sepekan terakhir terjadi meski pasokan dari agen hingga pangkalan disebut masih normal. Kondisi itu memunculkan dugaan adanya lonjakan permintaan di tingkat masyarakat yang membuat persediaan di sejumlah warung cepat habis.
Seorang pemilik pangkalan gas elpiji, Made Puja Darsana, mengatakan terdapat perbedaan antara kondisi pasokan dari agen dan ketersediaan gas di tingkat pengecer. Dalam kondisi normal, satu rumah tangga rata-rata menggunakan satu tabung gas elpiji 3 kilogram selama tiga hari.
Namun, saat ini warung yang biasanya menyediakan sekitar 10-15 tabung per hari justru dapat menghabiskan seluruh persediaannya. Kondisi tersebut membuat warga harus mencari gas ke sejumlah lokasi untuk mendapatkan tabung bersubsidi.
“Nah warung atau pangkalan lain tidak tau, apakah disalurkan ke masyarakat apa ke mana. Atau memang langka karena adanya peningkatan penggunaan karena banyak digunakan masyrakat untuk upacara pernikahan, atau pengabenan,” jelasnya.
Dugaan peningkatan kebutuhan itu dikaitkan dengan aktivitas masyarakat Bali yang pada bulan ini banyak menggelar upacara pernikahan maupun pengabenan. Meski demikian, penyebab pasti meningkatnya penyerapan gas di tingkat masyarakat belum diketahui.
Dampak kondisi tersebut dirasakan warga di sejumlah desa. Ketut Sugi, warga Desa Tojan, harus mendatangi sekitar sembilan warung untuk mencari gas elpiji 3 kilogram pada Minggu (06/09/2026). Tidak satu pun warung yang didatanginya memiliki persediaan.
“Setiap warung yang saya jajaki semua bilang habis. Ada sekitar 9 warung saya datangi semua bilang gas (3 kilogram) kosong,” ungkap Ketut Sugi, Minggu 6 September 2026.
Sugi kemudian berkendara sekitar lima kilometer hingga menemukan gas di sebuah pangkalan. Jarak tersebut lebih jauh dibandingkan kediamannya yang hanya sekitar satu kilometer dari Pasar Galiran, salah satu pasar terbesar di Klungkung.
“Akhirnya saya dapat di pangkalan, itupun hanya tersisa 1 tabung gas,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Made Anta, warga Desa Tihingan. Ia mengaku kesulitan mendapatkan gas elpiji bersubsidi selama sekitar satu pekan terakhir.
“Sudah sekitar seminggu ini saya sulit beli gas (elpiji bersubsidi),” ungkapnya.
Sebagaimana diberitakan Tribun Bali, Senin (07/09/2026), kondisi kelangkaan tersebut telah diketahui Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung. Pemerintah daerah melakukan pengecekan terhadap agen untuk memastikan apakah terdapat gangguan pada rantai pasokan gas bersubsidi.
Kepala Bagian (Kabag) Administrasi Pembangunan, Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Klungkung I Gede Merta Jaya mengatakan hasil pengecekan menunjukkan pasokan dari agen maupun distribusi menuju pangkalan masih berjalan normal.
“Setelah kami cek, di agen pasokannya masih normal. Termasuk ke pangkalan masih lancar,” jelasnya.
Meski pasokan dinilai lancar, kondisi di tingkat pasar masih menunjukkan kelangkaan. Pemkab Klungkung selanjutnya akan berkoordinasi dengan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kabupaten Klungkung untuk menelusuri distribusi gas bersubsidi tersebut.
“Karena seminggu situasinya masih seperti ini, kami akan koordinasi dengan dinas perdagangan yang memiliki kewenangan pengawasan distribusinya,” ungkapnya.
Pemeriksaan distribusi diperlukan untuk mengetahui penyebab ketidaksesuaian antara pasokan yang dinyatakan normal di tingkat agen dan ketersediaan gas yang cepat habis di warung. Pemerintah daerah juga perlu memastikan penyaluran gas bersubsidi tetap sesuai sasaran dan mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Di sisi lain, dugaan peningkatan penggunaan untuk kegiatan masyarakat masih menjadi salah satu kemungkinan yang perlu ditelusuri. Pemantauan distribusi dan pola konsumsi di lapangan diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai penyebab kelangkaan sehingga ketersediaan gas elpiji 3 kilogram kembali normal. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara