Desa Wisata Sumba Timur Didorong Makin Inklusif

NUSA TENGGARA TIMUR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumba Timur mendorong pengembangan desa wisata yang lebih inklusif dengan memperkuat kapasitas masyarakat, memperluas peran perempuan, serta meningkatkan akses bagi penyandang disabilitas dan kelompok marjinal. Langkah tersebut dinilai penting agar pertumbuhan pariwisata tidak berhenti pada peningkatan kunjungan, tetapi turut membuka sumber pendapatan baru bagi warga desa.

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Timur Yudi Umbu Rawambaku mengatakan pembangunan desa wisata harus menjadikan masyarakat sebagai pelaku utama. Menurut dia, potensi budaya, lingkungan, bentang alam, praktik tradisional, dan pengetahuan lokal dapat dikembangkan menjadi produk wisata tanpa menghilangkan identitas desa.

“Desa wisata tidak hanya berbicara tentang destinasi, tetapi bagaimana masyarakat menjadi bagian utama dalam pengelolaannya sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh warga,” katanya, sebagaimana diberitakan Koran Jakarta, Rabu, (26/08/2026).

Yudi menjelaskan pendekatan Community-Based Tourism (CBT) diterapkan dengan memadukan pelestarian budaya, penguatan ekonomi masyarakat, dan pengelolaan lingkungan. Pemkab Sumba Timur saat ini mencatat terdapat 14 desa wisata yang terbagi dalam tiga klasifikasi, yakni desa wisata alam, desa wisata budaya, dan desa wisata bahari.

Menurut dia, pengembangan tersebut membutuhkan dukungan lintas sektor. Pemkab Sumba Timur melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bekerja sama dengan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), perusahaan melalui program tanggung jawab sosial, badan usaha milik negara (BUMN), dan lembaga swadaya masyarakat (NGO).

Kolaborasi itu diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) pengelola desa wisata melalui pelatihan dan pendampingan. Program yang telah didorong antara lain peningkatan kapasitas pengelola, pelatihan kreativitas dan kreasi perempuan untuk memperkuat ekonomi rumah tangga, serta edukasi bagi perempuan terkait penanggulangan stunting dan gizi buruk.

“Kami membutuhkan kolaborasi lintas sektor karena pengembangan desa wisata tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah. Masyarakat, akademisi, dunia usaha, BUMN, dan NGO harus bergerak bersama,” katanya.

Aspek lingkungan juga menjadi bagian dari pemberdayaan desa wisata. Sejumlah desa mendapat pelatihan pengelolaan sampah, pembuatan kompos, dan maggot untuk mendukung keberlanjutan destinasi sekaligus mendorong masyarakat mengelola potensi ekonomi dari lingkungan sekitar.

Di sisi lain, Yudi menilai keterlibatan perempuan dalam pengembangan desa wisata masih perlu diperluas. Perempuan tidak hanya diharapkan menjalankan kegiatan operasional, tetapi juga memperoleh ruang dalam pengelolaan dan proses pengambilan keputusan.

“Perempuan sudah terlibat dalam berbagai aktivitas, tetapi keterlibatan itu perlu ditingkatkan agar tidak hanya pada sisi operasional, melainkan juga dalam tata kelola dan pengambilan keputusan,” ujarnya.

Penguatan inklusi tersebut turut didorong melalui penelitian UBSI mengenai desa wisata inklusif. Pemkab Sumba Timur berharap hasil penelitian dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih sesuai dengan kondisi desa, terutama dalam mengatasi keterbatasan fasilitas dan SDM.

“Harapan kami, hasil penelitian ini bisa memberikan rekomendasi kebijakan yang nyata dan mudah diterapkan, terutama untuk menjawab keterbatasan fasilitas dan sumber daya manusia di desa wisata,” katanya.

Hasil penelitian itu juga diharapkan membantu Pemkab Sumba Timur menyusun strategi quality tourism yang menyesuaikan karakter dan potensi masing-masing desa. Salah satu kebutuhan yang menjadi perhatian ialah penyediaan fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas dan kelompok marjinal.

“Yang kami butuhkan adalah rekomendasi yang bisa diterapkan di lapangan, mulai dari peningkatan kapasitas masyarakat, akses bagi kelompok disabilitas, sampai penguatan kerja sama lintas sektor,” ujarnya.

Dengan penguatan kapasitas warga, perluasan peran perempuan, akses yang lebih inklusif, serta pengelolaan lingkungan, desa wisata di Sumba Timur diharapkan mampu berkembang sebagai sumber ekonomi masyarakat tanpa mengorbankan budaya dan karakter lokal. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Lima Provinsi Jadi Percontohan Program Newsroom Jaga Desa SMSI

PDF 📄JAKARTA – Penguatan pemberitaan mengenai kehidupan dan pembangunan desa menjadi fokus Serikat Media Siber …

269 Desa Jalankan Program Energi Berdikari Pertamina

PDF 📄JAKARTA – Pemanfaatan energi terbarukan di desa diarahkan tidak berhenti pada penyediaan fasilitas energi, …

Bantuan Obat dan Sembako Menjangkau Dua Desa Terdampak Gempa

PDF 📄ENDE – Sebanyak 390 kepala keluarga di dua desa di Kabupaten Ende menerima bantuan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *