TIMOR TENGAH SELATAN – Kelompok Dasawisma Lahairoi di Desa Kesetnana, Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), kini bersiap memasarkan produk biskuit berbahan jagung bose hasil pendampingan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Nusa Cendana (Undana). Program tersebut tidak hanya meningkatkan keterampilan produksi pangan olahan, tetapi juga memperluas akses pemasaran guna mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan desa.
Kegiatan PKM telah berlangsung sejak 20 Juli 2026 dengan menyasar Kelompok Dasawisma Lahairoi di Dusun D, Desa Kesetnana. Selain pelatihan pengolahan produk, peserta juga memperoleh pembinaan mengenai pengemasan, pemasaran, hingga legalitas usaha agar produk memiliki daya saing di pasar.
Ketua PKM Desa Kesetnana, Juliana Ndolu, mengatakan penerima manfaat program tahun ini adalah kelompok perempuan yang selama ini mengembangkan potensi pangan lokal di desa tersebut.
“Penerima manfaat dari PKM – 2026 adalah Kelompok Dasawisma Lahairoi tepatnya di Dusun D, Desa Kesetnana,” kata Juliana Ndolu, sebagaimana dilansir Pos Kupang, Kamis (23/07/2026).
Ia menjelaskan, program tersebut menjadi bagian dari misi Undana untuk memperkuat kapasitas masyarakat melalui pemanfaatan hasil pertanian lokal, khususnya jagung dan labu kuning, agar memiliki nilai tambah ekonomi.
“PKM 2026 merupakan bagian dari perwujudan misi Undana berdampak bagi masyarakat termasuk bagi kelomok perempuan. Diharapkan melalaui kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kelompok untuk pengolahan, pengemasan dan pemasarana paska panen hasil petanian jagung dan labu kuning sehingga memiliki nilai tambah ekonomi,” kata Juliana Ndolu.
Produk yang dikembangkan dalam kegiatan tersebut meliputi biskuit bose berbahan jagung serta stik labu kuning. Untuk memperkuat keberlanjutan usaha, Undana juga memfasilitasi kerja sama pemasaran antara pemilik merek Boss Cuit dengan Kelompok Dasawisma Lahairoi sehingga hasil produksi dapat dipasarkan secara lebih luas.
“Kegiatan ini juga menyumbang pada pencapaian SDG 1 untuk pengurangan kemiskinan dan SDG 5 untuk kesetaraan gender,” jelas Juliana Ndolu.
Dalam sesi pelatihan, dosen Undana Yuri Sandra Faah memberikan materi mengenai pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), serta strategi pemasaran digital bagi kelompok usaha.
“Hasil produksi biskuit bose kelompok Lahario akan dipasarkan oleh pemilik merek biskui bose karena telah memiliki ijin yang lengkap dan pasar pada supermarket di TTS,” kata Helsina Pello.
“Tujuannya untuk memudahkan akses pasar bagi kelompok Lahairoi,” kata Helsina Pello.
Selain pendampingan, Undana menyerahkan bantuan berupa oven tangkring, mixer, mesin pembuat mi, timbangan digital, sealer, 200 kemasan plastik, dan 200 label produk. Bantuan tersebut diterima Ketua Dasawisma Lahairoi, Marni, yang menyampaikan apresiasi atas dukungan peralatan dan pelatihan yang dinilai bermanfaat bagi peningkatan kapasitas kelompok dalam mengembangkan usaha berbasis pangan lokal. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara