TABANAN – Keberhasilan Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan (Tabanan) dalam mengubah pola pengelolaan sampah rumah tangga menjadi sorotan. Setelah enam tahun menjalankan program berbasis sumber, sekitar 80 persen warga desa kini telah terbiasa memilah dan mengolah sampah secara mandiri, meningkat tajam dibandingkan kondisi awal yang hanya sekitar 10 persen.
Transformasi tersebut berawal dari upaya Pemerintah Desa (Pemdes) Bengkel yang menjadikan pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari pembangunan desa. Program ini kemudian diintegrasikan dengan sektor pertanian dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) agar hasil pengolahan sampah memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Perbekel Desa Bengkel, I Nyoman Wahya Biantara, mengatakan perubahan perilaku warga tidak terjadi secara instan. Dari total 495 dapur rumah tangga yang tersebar di empat banjar dinas, sebanyak 360 dapur kini telah menerapkan pengolahan sampah berbasis sumber.
“Kami mulai dari pengelolaan lingkungan, lalu hasil olahan dibawa ke petani dan dipasarkan melalui BUMDes,” ujar Wahya Biantara.
Menurutnya, pada 2019 pengelolaan sampah di desa masih mengandalkan sistem angkut dan buang. Saat itu, sampah dari beberapa desa layanan mencapai sekitar 90 ton per bulan dan seluruhnya dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mandung.
“Dulu ada petugas yang terapkan sistem angkut buang saja. Melayani beberapa desa, dan warga Desa Bengkel ikut program itu,” jelasnya.
Setelah melakukan kajian selama sekitar satu tahun, Pemdes Bengkel menghentikan sistem tersebut pada Agustus 2020 karena dinilai berisiko terhadap lingkungan. Sebagai langkah lanjutan, pemerintah desa menggandeng perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk memberikan pelatihan pembuatan tong komposter kepada sekitar 50 warga saat pandemi Covid-19.
Program tersebut bertujuan mengolah sampah organik menjadi pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian maupun tanaman di sekitar rumah warga. Namun, pelaksanaannya belum berjalan optimal karena sebagian masyarakat masih mencampur sampah dan belum terbiasa mengolah sampah organik.
“Meskipun sudah ada tong komposer masyarakat belum mampu memilah sampah organiknya sendiri,” beber Wahya Biantara.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Pemdes Bengkel membentuk Bank Sampah Bengkel Bestari setelah mempelajari sistem pengelolaan di Bank Sampah Desa Pejaten. Melalui pendekatan ini, warga didorong memilah sampah berdasarkan jenisnya sebelum disetorkan.
“Awalnya sedikit yang ikut. Tapi sekarang masyarakat tidak punya pilihan, kalau tidak dipilah sampah tidak diangkut,” tegasnya.
Sebagaimana diberitakan Nusabali, Minggu, (24/05/2026), bank sampah tersebut pada awalnya dijalankan secara swadaya selama delapan bulan dengan melibatkan kader relawan. Setelah sistem berjalan baik, pemerintah desa mulai mengalokasikan dukungan anggaran untuk operasional kader pengelola.
“Pembentukan bank sampah ini saya dapat dukungan supprot penuh dari Pak Made Subagia (Mantan Kadis LH Tabanan). Beliau turun langsung saat itu,” kenangnya.
Kini pengelolaan sampah di Desa Bengkel dilakukan secara terpadu melalui bank sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) Bestari. Sampah anorganik maupun organik diproses secara terpisah dan pengangkutan dilakukan dua kali setiap pekan.
Selain menciptakan lingkungan yang lebih bersih, program tersebut juga memberikan manfaat ekonomi. Warga memperoleh nilai jual sampah berkisar Rp30 ribu hingga Rp75 ribu per kilogram dan dapat menabung hasil penjualan melalui bank sampah. Tabungan itu biasanya dicairkan setiap enam bulan menjelang Hari Raya Galungan, bahkan ada warga yang berhasil mengumpulkan hingga Rp1 juta. Program ini menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat mampu mendorong perubahan perilaku sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga desa. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara