KUBU RAYA – Tradisi Naik Dango, upacara syukuran panen padi masyarakat Dayak Kanayatn, kembali digelar tahun ini dengan fokus pada pelestarian budaya sekaligus penguatan kebersamaan antarwarga di tiga kabupaten: Kubu Raya, Landak, dan Mempawah. Rangkaian kegiatan ini tidak sekadar seremoni, tetapi menjadi wadah untuk menegaskan identitas budaya, nilai spiritual, dan kontribusi pertanian dalam kehidupan masyarakat Dayak.
Naik Dango merupakan tradisi menaikkan padi ke dalam dango (lumbung padi) sebagai ungkapan syukur kepada Jubata (Tuhan) atas hasil panen dan permohonan perlindungan untuk musim tanam berikutnya. Secara harfiah, Naik berarti menaikkan atau membawa, sedangkan Dango adalah lumbung padi tradisional Dayak, sehingga Naik Dango berarti menaikkan padi sebagai simbol selesainya masa panen.
Kegiatan Naik Dango ke-41 tahun 2026 dipusatkan di Rumah Adat Dayak Kanayatn Lingga, Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kubu Raya, berlangsung dari 25 hingga 28 April 2026. Sebelumnya, seluruh rangkaian diawali dengan ritual Nabok Panyugu (Pantak Pantulak) sebagai fondasi spiritual, digelar pada Jumat, 30 Januari 2026, yang bertujuan memohon izin, restu, dan kelancaran seluruh gawai.
Ketua Panitia Naik Dango ke-41, Lorensius, menegaskan, “Naik Dango merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat Dayak atas hasil panen dan perjalanan kehidupan selama satu tahun. Tradisi ini sangat erat dengan kehidupan pertanian masyarakat Dayak,”
Ritual dipimpin oleh Imam Adat dengan melibatkan lima unsur adat, dilengkapi perlengkapan simbolis seperti ayam, padi, beras pulut, beras bias, beras banyu, beras kuning, dan telur.
Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Yakobus Kumis, menambahkan, ritual ini juga sebagai sarana memohon restu kepada Jubata, leluhur, panampa Pajaji, dan Pangingo selaku penguasa alam semesta. “Naik Dango adalah ritual adat masyarakat Dayak Kanayatn sebagai ungkapan rasa syukur dalam satu siklus kehidupan, khususnya setelah panen padi. Panen padi merupakan puncak berkat dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa,” jelas Yakobus.
Perhelatan ini menampilkan beragam kegiatan, mulai dari pembukaan seremonial, seminar budaya, pertunjukan tarian dan musik tradisional, pameran budaya, hingga lomba-lomba rakyat. Bahaupm, musyawarah adat bersama para pemangku adat dari ketiga kabupaten, menjadi bagian penting dalam rangkaian Naik Dango, untuk memastikan nilai-nilai adat tetap terjaga dan masyarakat terlibat aktif. Yakobus berharap Naik Dango ke-41 menjadi wadah pemersatu masyarakat, media pelestarian budaya, sekaligus sarana penyampaian pesan pembangunan oleh pemerintah. []
Redaksi02 | Nadiya
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara