INDONESIA, DESA – NUSANTARA: Inisiatif transformasi digital mulai mengubah wajah Lembah Pusako. Pemanfaatan aplikasi pemasaran berbasis digital hingga perangkat monitoring lingkungan diperkenalkan kepada masyarakat dalam forum diskusi terbuka di balai desa. Langkah ini digagas Raka, pemuda setempat yang baru kembali dari perantauan setelah menamatkan pendidikan di bidang teknologi informasi.
Di hadapan warga, Raka memperkenalkan aplikasi PusakoHub sebagai sarana promosi hasil tani, kerajinan, dan potensi wisata desa. Ia menegaskan pentingnya keterlibatan desa dalam arus perkembangan teknologi.
“Dunia kini tidak lagi berjarak,” katanya dengan suara yang tegas namun bersahabat. “Kita tidak harus pergi ke kota untuk dikenal. Dengan teknologi, desa ini bisa bersuara—dan suara itu bisa sampai ke mana pun.”
Antusiasme terlihat dari para pemuda yang langsung mencoba aplikasi tersebut. Melalui PusakoHub, petani dapat mengunggah hasil panen, pengrajin memasarkan produk, dan pelaku wisata mempromosikan paket kegiatan desa.
Siti, anggota kelompok tani muda, mempertanyakan dampak distribusi langsung tersebut. “Jadi dengan ini, orang kota bisa langsung beli sayur kita tanpa lewat tengkulak?” tanyanya. Raka mengangguk. “Iya, langsung dari petani ke pembeli. Transparan, cepat, dan adil.”
Namun, muncul pula pandangan kritis dari tokoh adat setempat. Pak Marwan mengingatkan pentingnya keseimbangan antara modernisasi dan tradisi. “Nak Raka, teknologi memang hebat, tapi apakah semua ini tidak membuat anak muda lupa cara lama yang sudah lama menjaga keseimbangan alam?”
Raka menegaskan bahwa teknologi justru diarahkan untuk memperkuat nilai-nilai tersebut. “Justru kita ingin menjaga itu, Pak. Teknologi bukan untuk menggantikan tradisi, tapi untuk melindunginya. Kita ingin memastikan sawah tetap subur, sungai tetap bersih, tapi hasilnya bisa lebih dikenal dan bernilai.”
Transformasi tidak berhenti pada pemasaran digital. Raka bersama pemuda desa merancang sensor kelembaban tanah berbasis Internet of Things (IoT) guna membantu petani mengelola lahan secara presisi. “Kalau alat ini berhasil, petani nggak perlu lagi nebak kapan tanah terlalu kering atau lembab. Semua datanya bisa muncul di HP,” jelas Raka.
Siti menanggapi dengan ringan, “Kalau begitu, mungkin nenekku nggak akan marah lagi karena aku sering lupa siram tanaman.” Raka tersenyum. “Teknologi bukan cuma soal mesin, tapi soal kemudahan hidup. Dan kalau bisa membuat nenekmu tersenyum, itu berarti alat ini berhasil.”
Upaya digitalisasi juga menyasar pelaku usaha anyaman. Raka melatih ibu-ibu memotret produk dengan pencahayaan alami agar lebih menarik secara visual. “Foto yang bagus bisa membuat orang tertarik membeli, Bu. Lihat, ini contoh sebelum dan sesudah,” katanya.
Salah seorang ibu berkomentar, “Rasanya seperti punya toko sendiri di dunia maya.” “Betul, Bu,” jawab Raka, “karena sekarang, dunia maya bisa jadi ladang baru untuk desa.”
Kendala jaringan internet sempat menghambat proses transaksi. Namun, inisiatif pengajuan kerja sama dengan penyedia layanan jaringan membuahkan hasil dengan pemasangan menara pemancar di bukit belakang desa. Ketika sinyal stabil hadir, optimisme warga kian tumbuh. “Sekarang tidak ada alasan lagi untuk tidak mencoba,” ujar Raka dengan senyum lebar.
Perkembangan ekonomi desa pun menunjukkan tren positif. Pemasaran produk meluas ke luar daerah dan jumlah kunjungan wisata meningkat. Pemerintah kabupaten mulai melirik Lembah Pusako sebagai contoh pengembangan smart village berbasis kearifan lokal.
Bagi Raka, capaian tersebut bukan sekadar viralitas, melainkan kebermanfaatan. Ia tetap aktif membimbing warga dan pelajar desa. Suatu sore, refleksi berlangsung di tepi sungai bersama Pak Marwan. “Jadi begini, Nak,” kata Pak Marwan pelan, “aku mulai paham maksudmu. Teknologi bisa jadi alat, asal tidak lupa arah.”
Raka menatap sungai yang mengalir. “Benar, Pak. Kita harus jadi tuan di negeri sendiri, juga di dunia digital. Kalau tidak, kita hanya akan jadi penonton dari perubahan yang seharusnya kita pimpin.”
Pak Marwan tersenyum. “Kau sudah jauh berpikir. Tapi jangan lupa, akar yang kuat tidak pernah meninggalkan tanahnya.” Raka mengangguk hormat. “Saya tidak akan melupakan itu, Pak.”
Inovasi berlanjut pada pengembangan energi mikrohidro dari aliran sungai desa. Ketika prototipe berhasil menyalakan lampu jalan, kebanggaan warga memuncak. “Listrik dari air sungai kita sendiri!” teriak anak-anak sambil berlari.
Siti mengamati perkembangan data ekonomi desa yang kian menanjak. “Berarti semua kerja keras kita mulai terlihat, ya?”
Raka menjawab, “Ini baru awal. Tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan. Kita tidak boleh berhenti di pencapaian ini.”
Transformasi di Lembah Pusako menunjukkan bahwa teknologi dapat berjalan berdampingan dengan adat, lingkungan, dan nilai spiritual. Bagi warga, inovasi bukan lagi sekadar alat, melainkan semangat kolektif untuk memimpin perubahan tanpa meninggalkan akar budaya.
Redaksi01-Alfian
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara