BELITUNG, DESA – NUSANTARA: Pemangkasan anggaran Dana Desa pada tahun 2026 membawa dampak besar bagi keberlangsungan pembangunan di tingkat desa di Kabupaten Belitung. Dari total 42 desa yang ada, rata-rata hanya memperoleh alokasi sekitar Rp373 juta, angka yang turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut dirasakan hampir merata, termasuk di Desa Perawas. Ketua DPC Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Belitung yang juga Kepala Desa Perawas, Yahya, mengungkapkan bahwa pemangkasan Dana Desa menyebabkan berkurangnya ruang fiskal desa secara signifikan untuk menjalankan berbagai program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Pada anggaran tahun 2025, Desa Perawas masih menerima Dana Desa hampir Rp1,3 miliar, termasuk insentif berupa reward kinerja. Namun, pada tahun 2026, alokasi yang diterima menyusut tajam hingga hanya sekitar Rp373 juta.
“Gambaran umum di Desa Perawas memang agak berbeda, karena ada reward kinerja, kemarin hampir Rp1,3 miliar, tahun ini tersisa Rp373 juta. Jadi sekitar Rp1 miliar anggaran kami hilang,” ujar Yahya, Rabu, “14 Januari 2026”.
Menurutnya, hal ini berdampak buruk terhadap sejumlah program strategis desa, mulai dari pembangunan infrastruktur, pelayanan dasar, hingga kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Desa-desa kini dituntut untuk semakin memprioritaskan dalam menentukan prioritas penggunaan anggaran agar kebutuhan mendesak masyarakat tetap dapat terpenuhi.
Kondisi tersebut juga mendorong pemerintah desa untuk beradaptasi dengan kebijakan fiskal yang lebih ketat, sekaligus mengharapkan adanya evaluasi dan solusi dari pemerintah pusat desa agar tetap mampu menjalankan fungsinya sebagai ujung tombak pembangunan nasional.
Redaksi01-Alfian
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara