Inovasi Kerupuk Tenggiri Desa Tanjung Putri Tembus Pasar Kota

KOTAWARINGIN, BARAT DESA – NUSANTARA: Desa Tanjung Putri, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, menjadi bukti nyata bahwa sektor perikanan tradisional mampu berkembang dan mandiri melalui inovasi produk berbasis kualitas bahan baku.

Mahasiswa Jurusan Perikanan Universitas Padjadjaran, Farrel, yang tengah mengikuti kegiatan riset Program Transmigrasi Patriot di kawasan Arut Selatan–Kotawaringin Lama (Arsel–Kolam), menyebutkan bahwa produk unggulan desa tersebut adalah amplang dan kerupuk ikan berbahan dasar ikan tenggiri murni.

“Berdasarkan data lapangan, produk yang menjadi andalan yaitu amplang dan kerupuk ikan yang berbahan dasar ikan tenggiri murni,” ujar Farrel saat berada di Pangkalan Bun, Jumat (dd/mm/yyyy).

Sebagai desa pesisir dengan hasil laut melimpah, Desa Tanjung Putri sebelumnya kerap menjual ikan dalam bentuk mentah atau ikan asin. Namun, melalui inovasi pengolahan, potensi tersebut kini memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.

Inovasi tersebut dilakukan oleh Emi Nuryanti (36), pelaku usaha lokal yang mengolah ikan segar hasil tangkapan nelayan menjadi produk kerupuk dan amplang berkualitas. Produk olahannya tidak lagi hanya dipasarkan di warung sekitar desa, tetapi telah menembus toko oleh-oleh di Kota Pangkalan Bun.

Farrel yang menyempatkan diri mengunjungi kediaman Emi menemukan bahwa usaha tersebut tidak sekadar memproduksi kerupuk, tetapi juga membangun merek lokal berbasis kualitas bahan baku. Berbeda dengan produsen lain yang menggunakan ikan rucah untuk menekan biaya produksi, Emi memilih menggunakan ikan tenggiri sebagai strategi diferensiasi.

“Rasanya beda kalau pakai tenggiri asli. Konsumen sekarang lidahnya sudah pintar, mereka cari kualitas,” ungkap Emi.

Pilihan bahan baku tersebut berdampak pada peningkatan kelas produk. Dengan tekstur yang lebih renyah dan rasa gurih alami, produk Emi mampu menyasar segmen pasar yang lebih tinggi, khususnya toko oleh-oleh dan pasar modern di Pangkalan Bun.

Dengan kapasitas produksi sekitar 10 kilogram per siklus, produk tersebut dipasarkan dengan kisaran harga Rp120 ribu per kilogram atau kemasan besar. Strategi peningkatan kualitas bahan baku dan penempatan pasar yang tepat ini membuktikan bahwa produk perikanan desa dapat memiliki margin keuntungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Redaksi01-Alfian

About redaksi01

Check Also

Desa Pagelaran Resmi Lantik 36 Ketua RT dan RW Terpilih

PDF đź“„CIANJUR, DESA – NUSANTARA: Pemerintah Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, resmi melantik para …

Desa Keude Matang Glumpang Dua Gelar Musrenbang Desa

PDF đź“„BIREUEN, DESA – NUSANTARA: Masyarakat Desa Keude Matang Glumpang Dua, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, …

Koramil 02/TP dan Warga Gelar Patroli Siskamling di Cempedak Rahuk

PDF đź“„ROKAN, HILIR DESA – NUSANTARA: Upaya penguatan pembinaan teritorial (Binter) sekaligus menghidupkan kembali sistem …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *