JAKARTA – Upaya meningkatkan produktivitas kelapa sawit nasional kini diarahkan pada pendekatan berbasis sains melalui pemanfaatan serangga penyerbuk. Kementerian Pertanian (Kementan) memperkenalkan tiga spesies serangga asal Tanzania sebagai bagian dari strategi efisiensi dan keberlanjutan sektor perkebunan yang menopang ekonomi daerah, termasuk wilayah desa.
Direktur Perbenihan Perkebunan pada Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementan, Ebi Rulianti, menyatakan inovasi ini menjadi langkah penting dalam menjaga stabilitas produksi sawit nasional. Hal itu disampaikan dalam kegiatan pelepasan serangga penyerbuk di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (10/4/2026).
“Kita belajar dari sejarah bahwa inovasi kecil bisa membawa dampak besar,” ujarnya.
Tiga spesies yang diperkenalkan yakni Elaeidobius subvittatus, Elaeidobius kamerunicus, dan Elaeidobius plagiatus. Serangga tersebut disebar melalui Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Unit Marihat sebagai bagian dari penguatan sistem penyerbukan alami pada tanaman kelapa sawit.
Menurut Ebi, kehadiran serangga penyerbuk mampu meningkatkan efisiensi biaya produksi, khususnya dalam proses penyerbukan yang selama ini menjadi faktor krusial dalam pembentukan buah sawit.
“Kita menandai langkah strategis dalam keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia. Keberadaan serangga ini sangat mampu menurunkan biaya dalam produktivitas sawit,” ujarnya.
Program ini melibatkan sejumlah pihak, antara lain Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Badan Karantina Indonesia, PT Riset Perkebunan Nusantara, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), serta Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki).
Ketua Umum (Ketum) Gapki, Eddy Martono, menilai inovasi tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan industri sawit di masa depan.
“Langkah kecil ini membawa harapan besar lahirnya generasi baru kelapa sawit Indonesia yang lebih produktif, adaptif, dan berkelanjutan,” katanya.
Ia menambahkan, seluruh tahapan introduksi telah melalui proses ilmiah yang ketat, termasuk pengujian keamanan oleh berbagai lembaga terkait.
“Dari seluruh pengujian tersebut menunjukkan bahwa spesies yang diintroduksi memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Langkah yang kita ambil ini adalah kebijakan berbasis sains, terukur dan tetap menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian,” ujarnya.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sektor kelapa sawit menjadi tulang punggung ekonomi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dengan produksi perkebunan rakyat mencapai 234 ribu ton, jauh melampaui komoditas lain seperti lada dan karet.
Dalam konteks yang lebih luas, peran serangga penyerbuk menjadi sangat vital. Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Purnama Hidayat, menyebutkan bahwa tanpa kehadiran serangga penyerbuk, produksi kelapa sawit dapat turun drastis hingga 70–80 persen.
Inovasi ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan sektor perkebunan, khususnya di wilayah pedesaan yang bergantung pada komoditas sawit sebagai sumber utama penghidupan, sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan petani secara berkelanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara