JEMBRANA – Upaya pemulihan pascabanjir di Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, dilakukan melalui kerja bakti gabungan yang melibatkan warga dan sejumlah instansi, Senin (6/4/2026), dengan fokus membersihkan lumpur yang masih menutupi permukiman dan akses jalan.
Sekitar 50 orang terlibat dalam kegiatan tersebut, terdiri dari warga terdampak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Pembersihan dipusatkan di Lingkungan Baler Bale Agung, Kelurahan Tegalcangkring, yang menjadi salah satu wilayah terdampak cukup parah.
Proses pembersihan tidak hanya dilakukan secara manual, tetapi juga dibantu penyemprotan oleh Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Jembrana untuk mempercepat penghilangan lumpur di jalan umum dan halaman rumah warga.
Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Mendoyo I Wayan Sartika menyebutkan bahwa prioritas utama kegiatan ini adalah memulihkan kondisi lingkungan warga di bantaran sungai dan jalur transportasi desa.
“Fokus utamanya adalah pembersihan lumpur pada rumah maupun halaman rumah warga terdampak di sepanjang bantaran sungai serta akses jalan umum pedesaan,” ujarnya.
Lurah Tegalcangkring, I Kade Dwi Puspa Negara, menambahkan bahwa kegiatan pembersihan telah dilakukan sejak pagi hari dengan menyasar rumah-rumah yang masih dipenuhi sisa material banjir.
“Kemudian beberapa akses jalan yang masih tergenang lumpur juga dibersihkan secara gotong royong,” jelasnya.
Banjir yang terjadi pada Minggu (5/4/2026) sore sebelumnya sempat merendam puluhan rumah di sejumlah desa di Kecamatan Mendoyo. Ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar 50 sentimeter akibat meluapnya bendungan setempat setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
Beberapa wilayah terdampak antara lain Banjar Tengah di Desa Mendoyo Dauh Tukad, Banjar Tengah di Desa Mendoyo Dangin Tukad, Banjar Petapan Kelod di Desa Pergung, serta Banjar Dauh Marga di Desa Delod Berawah. Dampak terparah terjadi di Kelurahan Tegalcangkring dengan belasan kepala keluarga (KK) terdampak.
Selain permukiman, sejumlah titik di Jalan Raya Denpasar–Gilimanuk juga sempat terendam, termasuk di kawasan Pasar Tegalcangkring dan Desa Yehembang, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, dampak banjir tetap dirasakan warga baik secara fisik maupun psikologis. Sebagian warga terpaksa mengungsi sementara ke rumah kerabat karena kondisi hunian yang belum layak ditempati.
“Tidak ada warga yang sampai mengungsi, hanya numpang tidur sementara di rumah tetangga karena kondisi rumahnya tak memungkinkan,” ucapnya.
Peristiwa ini juga disertai bencana lain seperti tanah longsor dan jebolnya senderan di beberapa titik. Pemerintah setempat berharap kejadian serupa tidak terulang, sekaligus mengimbau peningkatan kewaspadaan menghadapi cuaca ekstrem. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara