BANYUWANGI, DESA – NUSANTARA: Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terus mendorong penguatan sektor pangan berbasis desa sebagai strategi memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Salah satu model yang dikembangkan adalah usaha peternakan ayam petelur di tingkat desa melalui pemanfaatan dana desa.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mencontohkan langkah Pemerintahan Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, yang mengalokasikan dana desa untuk membangun usaha peternakan ayam petelur. Menurutnya, inisiatif tersebut tidak hanya menggerakkan ekonomi, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial bagi warga.
“Kalau desa punya usaha seperti di Desa Alasbuluh, manfaatnya bisa ganda, ekonomi bergerak, warga terlibat bekerja, dan hasilnya juga bisa kembali untuk membantu masyarakat,” kata Bupati Ipuk di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa.
Ia menegaskan bahwa penguatan pangan desa penting untuk terus didorong karena memberikan kontribusi langsung terhadap ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi desa.
Program tersebut, lanjutnya, tidak semata berorientasi bisnis, melainkan juga mengedepankan aspek sosial. Produksi telur dimanfaatkan untuk membantu kelompok masyarakat rentan, seperti lanjut usia, ibu hamil, serta balita yang mengalami stunting.
“Telur merupakan sumber protein yang baik. Jika dikelola oleh desa dan dimanfaatkan untuk masyarakat, dampaknya besar, termasuk upaya pengentasan kemiskinan warganya,” kata Ipuk.
Kegiatan peternakan ayam petelur di Desa Alasbuluh mulai berjalan sejak Desember 2025. Fasilitas kandang berukuran sekitar 30 x 4 meter dibangun menggunakan dana desa. Saat ini, populasi ternak telah mencapai sekitar 1.100 ekor ayam petelur.
Pendamping Desa Alasbuluh, Eko Mulyono, menjelaskan bahwa gagasan tersebut berawal dari musyawarah desa bersama Badan Permusyawaratan Desa, yang menginginkan desa memiliki usaha bersama melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
“Pada awal produksi, jumlahnya masih sedikit, hanya belasan butir setiap hari, namun sekarang terus bertambah dan sudah mampu menghasilkan sekitar satu krat telur atau setara kurang lebih 15 kilogram,” katanya.
Hasil panen tidak hanya dipasarkan di sekitar desa, tetapi juga menjangkau pasar di wilayah Kecamatan Wongsorejo. Selain untuk penjualan komersial, sebagian produksi telur turut dialokasikan bagi kegiatan sosial masyarakat setempat.
Langkah Desa Alasbuluh menunjukkan bahwa pengelolaan dana desa yang tepat sasaran mampu menciptakan kegiatan ekonomi produktif sekaligus memberi manfaat langsung bagi kesejahteraan warga.
Redaksi01-Alfian
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara