SURABAYA, DESA – NUSANTARA: Telkom University Kampus Surabaya mendorong penguatan pengelolaan limbah berbasis warga melalui penerapan teknologi tepat guna di Desa Gading Watu, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik. Inisiatif tersebut bertujuan meningkatkan nilai ekonomi sampah plastik sekaligus memperkuat kesadaran lingkungan masyarakat di tingkat RT.
Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilaksanakan di RT 02 RW 04 itu memfokuskan intervensi pada pemanfaatan alat pencacah botol plastik untuk mengatasi permasalahan sampah rumah tangga yang selama ini belum tertangani secara optimal. Dengan jumlah 58 kepala keluarga, wilayah tersebut menghasilkan limbah botol plastik dalam jumlah cukup besar setiap hari, namun belum memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi warga.
Upaya ini dipimpin oleh Dr. Benazir Imam Arif Muttaqin, ST, MT, bersama tim dosen Dr. Pratya Poeri Suryadhini, ST, MT, dan Agoes Windarto, ST, MM, serta melibatkan lima mahasiswa dalam proses pendampingan lapangan. Kehadiran pengunjung dan pelajar bertujuan untuk memastikan teknologi yang diterapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan operasional masyarakat.
Alat pencacah yang diperkenalkan memiliki kapasitas 10–20 kilogram per jam, dirancang hemat energi, aman, dan mudah digunakan. Melalui proses pencacahan, limbah botol plastik yang sebelumnya dijual dalam bentuk utuh dapat meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat. Skema ini diharapkan menjadi insentif ekonomi baru yang mendorong warga lebih aktif memilah dan mengelola sampah.
Selain penyediaan alat, kegiatan juga diisi dengan penyuluhan lingkungan serta pelatihan pengoperasian mesin. Yayasan Lestari Bumi Kota Surabaya juga dilibatkan sebagai mitra lapangan bersama Ir. Adi Candra, S.Si., M.Si., untuk memperkuat transfer pengetahuan dan memastikan kelangsungan program. Warga dilibatkan langsung dalam uji coba alat dan pembentukan kelompok pengelola sampah berbasis komunitas.
Ke depan, hasil cacahan plastik tidak hanya akan dijual sebagai bahan baku, tetapi juga diarahkan menjadi produk bernilai tambah seperti eco-brick paving block dan kerajinan berbahan plastik daur ulang. Produk tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan infrastruktur desa sekaligus membuka peluang usaha baru yang mendukung ekonomi sirkular.
Pelaksanaan PkM dilakukan secara bertahap, dimulai dari mengidentifikasi kebutuhan dan survei lokasi, pemberian teknologi disertai pendampingan masyarakat, hingga evaluasi dan monitoring program yang diinginkan. Pola kolaboratif antara perguruan tinggi, mitra lingkungan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Program ini sejalan dengan pengembangan teknologi cerdas yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat serta mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta aksi terhadap perubahan iklim. Desa Gading Watu diharapkan dapat menjadi contoh praktik baik pengelolaan sampah plastik berbasis komunitas yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Redaksi01-Alfian
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara