CILACAP, DESA – NUSANTARA: Transformasi pertanian berbasis teknologi mulai dirasakan oleh warga Desa Mernek. Setelah bertahun-tahun menjalankan pola tanam tradisional yang sepenuhnya bergantung pada kondisi alam, sejumlah petani desa kini mulai bersentuhan dengan peralatan dan sistem teknologi yang sebelumnya dianggap sulit dijangkau.
Suyitno bersama kelompok tani di desa tersebut mengungkapkan bahwa selama ini proses bercocok tanam dilakukan secara turun-temurun, mulai dari penanaman hingga pengeringan gabah yang bergantung pada panas matahari. Pola tersebut membuat hasil panen sangat dipengaruhi oleh cuaca dan sering kali kurang efisien dalam hal waktu maupun produktivitas.
Perubahan mulai terasa ketika kolaborasi antara warga desa dan generasi muda menghadirkan pendekatan baru dalam pengelolaan pertanian. Teknologi yang diperkenalkan tidak hanya membantu mempercepat proses kerja, tetapi juga memberi kepastian terhadap hasil pengolahan pascapanen. Kondisi ini membuka wawasan baru bagi para petani bahwa modernisasi pertanian tidak selalu identik dengan sesuatu yang rumit atau mahal.
Bagi warga Desa Mernek, adopsi teknologi menjadi titik awal kemandirian energi dan pangan desa. Kehadiran inovasi tersebut secara bertahap mendorong peningkatan kapasitas petani, sekaligus memperkuat ketahanan usaha tani di tengah tantangan perubahan iklim dan ketidakpastian cuaca.
Langkah ini dinilai penting sebagai upaya menjaga keberlanjutan sektor pertanian desa, sekaligus memastikan regenerasi petani tetap berjalan. Kolaborasi lintas generasi menjadi kunci agar teknologi dapat diterima dan dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan kebutuhan lokal.
Redaksi01-Alfian
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara