LEMBATA – Dampak gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores Timur sejak Rabu (8/4/2026) malam hingga Kamis (9/4/2026) pagi mulai terlihat di Desa Babokerong, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, dengan sedikitnya belasan rumah warga mengalami kerusakan, termasuk dua unit dalam kondisi berat.
Kepala Desa (Kades) Babokerong Mohamad Ismail menyampaikan bahwa kerusakan tersebut diketahui setelah pihaknya menerima laporan warga dan langsung melakukan pemantauan ke lokasi pada Kamis siang. Ia mengungkapkan, rumah-rumah yang mengalami kerusakan berat umumnya berada di kawasan pesisir yang terdampak langsung guncangan.
“Ada yang berat dan ringan. Dua rumah alami kerusakan berat,” katanya.
Ia menjelaskan, struktur bangunan pada rumah yang rusak berat mengalami patahan dan berpotensi roboh sewaktu-waktu. Sementara itu, rumah lain mengalami retakan dinding dan kemiringan akibat guncangan berulang yang terjadi lebih dari lima kali.
Secara keseluruhan, sekitar 14 rumah lainnya mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Namun, pendataan masih terus dilakukan sehingga jumlah kerusakan diperkirakan dapat bertambah. Meski demikian, sebagian besar warga masih bertahan di rumah masing-masing dengan tetap waspada terhadap potensi gempa susulan.
“Saat ini sebagian besar warga masih bertahan di rumah masing-masing,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Desa (Pemdes) Babokerong mengimbau warga untuk segera keluar rumah saat terjadi gempa dan memastikan kondisi bangunan aman sebelum kembali masuk. Aparat desa juga rutin melakukan patroli untuk memastikan keselamatan warga pascakejadian.
Ismail menambahkan, kondisi geografis Desa Babokerong yang berada di wilayah pesisir membuat kawasan tersebut rawan bencana, baik gempa bumi, gelombang tinggi, hingga banjir bandang saat musim hujan. Ia menyebut, gempa yang terjadi kerap disertai gelombang tinggi yang berpotensi masuk ke permukiman warga.
“Biasanya saat terjadi gempa, biasanya diiringi gelombang tinggi yang masuk sampai ke pemukiman,” katanya.
Selain rumah warga, sejumlah fasilitas umum seperti masjid, gedung perpustakaan, hingga bangunan usaha sarang burung walet juga dilaporkan mengalami kerusakan. Bahkan, talud penahan gelombang sepanjang kurang lebih setengah kilometer dilaporkan mengalami kerusakan hingga 90 persen.
“Talud kurang lebih setengah kilo. Kerusakan sudah 90 persen. Akibat gempa kemarin, talud rusak. Kalau air pasang 3-5 meter, bisa masuk ke pekuburan umum,” ujarnya.
Saat ini, warga bersama aparat desa membangun talud darurat menggunakan kayu dan batu untuk mencegah gelombang laut masuk ke kawasan permukiman. Hingga kini, belum terdapat posko pengungsian maupun kehadiran tim dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata di lokasi, sementara laporan kondisi terus disampaikan ke pihak kecamatan dan kabupaten.
Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penanganan cepat dan terkoordinasi guna meminimalkan risiko lanjutan bagi warga di wilayah pesisir yang rawan bencana. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara