KABUPATEN MALANG – Telaga Madiredo di Desa Madiredo, Kecamatan Pujon, menjadi contoh pengembangan potensi desa berbasis wisata alam yang memadukan keindahan lingkungan dengan nilai budaya lokal. Destinasi ini menawarkan air jernih dari sumber alami serta suasana pedesaan yang sejuk, sekaligus menjadi penggerak ekonomi warga setempat.
Telaga yang terbentuk dari sumber mata air alami ini dikenal memiliki kejernihan tinggi, sehingga dasar telaga terlihat jelas. Dikelilingi pepohonan dan hamparan sawah, kawasan ini menghadirkan pengalaman wisata yang menenangkan bagi pengunjung yang datang.
Selain keindahan alam, Telaga Madiredo juga menyimpan nilai historis dan kepercayaan masyarakat. Berdasarkan cerita turun-temurun, lokasi ini dikaitkan dengan legenda perebutan benda pusaka Cupu Manik Astagina serta dipercaya sebagai tempat pemandian bidadari pada masa lampau.
“Masyarakat sekitar juga percaya, mandi di Telaga Madiredo dapat menyebabkan awet muda. Mungkin karena kandungan mineral air yang sangat tinggi,” kata Chandra Aris Suhermawan, Manager Operasional Telaga Madiredo, Jumat (10/4/2026).
Dari sisi fasilitas, pengelola menyediakan berbagai wahana seperti kolam terapi ikan, area camping ground, sepeda air, hingga area bermain anak dan spot selfie. Pengunjung juga dapat menikmati sajian kuliner di kafe yang berada di tepi telaga.
“kami juga memiliki beberapa spot foto menarik yang dikelilingi oleh pepohonan dan persawahan. setelah berenang pengunjung bisa makan dan minum di kafe yang berlokasi di pinggir telaga sambil menikmati suasana yang sangat asri,” ujarnya.
Pengunjung diperbolehkan berenang di area tertentu dengan kedalaman sekitar satu meter, namun dilarang mendekati sumber mata air demi menjaga kelestarian telaga.
“kami tetap mempertahankan keasrian telaga Madiredo. pengunjung boleh berenang di telaga, namun hari tetap menjaga kebersihan,” tambahnya.
Telaga Madiredo mulai dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Madiredo sejak 2017, sementara pembangunan fasilitas wisata dilakukan pada 2021. Destinasi ini kemudian diresmikan oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) pada Oktober 2022.
Sebelum dikembangkan menjadi objek wisata, telaga ini dimanfaatkan warga sebagai tempat bermain serta sumber air irigasi untuk pertanian. Kini, keberadaannya memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat desa.
“untuk harga tiket kita bandrol hanya Rp 10 ribu perorang. baik akhir pekan, hari libur atau hari biasa harganya tetap sama,” tegas Chandra.
Pengembangan Telaga Madiredo diharapkan terus mendorong kemandirian desa melalui sektor pariwisata berbasis potensi lokal yang berkelanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara