PURBALINGGA – Liburan panjang justru menjadi momen emas bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis kuliner di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Warung sederhana milik Mukinah mendadak ramai dikunjungi wisatawan yang ingin mencicipi Nasi Bronjol, kuliner tradisional khas lereng Gunung Slamet, pada Minggu (5/4/2026).
Fenomena ini terlihat dari antrean panjang pengunjung yang rela menunggu demi seporsi Nasi Bronjol. Mukinah, pemilik warung, menyebutkan peningkatan konsumsi bahan baku hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa. “Pelanggan mengalami peningkatan (saat libur). Biasanya di hari biasa hanya menghabiskan 20 kilogram beras, sekarang kalau libur begini bisa mencapai 60 kilogram per hari,” ujarnya.
Nasi Bronjol memadukan beras merah dan jagung yang dimasak khusus hingga menghasilkan tekstur khas “mronjol”. Kesederhanaan penyajiannya, dengan lauk pauk ndeso seperti sayur mayur lereng Slamet, tempe-tahu goreng, ikan asin, pete, dan sambal ijo pedas, menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Mukinah juga menyediakan kemasan besek bambu sebagai oleh-oleh ramah lingkungan yang menambah kesan tradisional.
Harga yang terjangkau, Rp15.000 per porsi, membuat Nasi Bronjol mudah diakses semua kalangan. Ali, wisatawan asal Purwokerto, mengaku penasaran setelah mendapat rekomendasi teman. “Dapat info dari teman katanya enak, ternyata benar. Sambalnya khas banget dan harganya juga murah. Ini bukan cuma soal makan, tapi ada rasa nostalgia, mengingatkan pada masakan zaman dulu yang sekarang mulai jarang ditemui,” katanya.
Warung Mukinah yang buka pukul 09.00–20.00 WIB kini menjadi simbol bagaimana tradisi kuliner lokal mampu mendorong ekonomi kreatif desa. Kehadiran wisatawan tidak hanya menghidupkan warung, tetapi juga memperkuat daya tarik desa sebagai tujuan wisata kuliner berbasis budaya dan nostalgia.[]
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara