KALIMANTAN TIMUR – Festival Adat Lom Plai yang digelar di Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, menjadi simbol kuat pelestarian budaya Suku Dayak Wehea sekaligus ungkapan syukur atas hasil panen padi, dengan puncak perayaan dijadwalkan berlangsung pada 22 April 2026.
Tradisi tahunan ini bukan sekadar perayaan, melainkan ritual sakral yang telah diwariskan secara turun-temurun. Lom Plai menjadi bagian penting dalam siklus kehidupan masyarakat Dayak Wehea, khususnya sebagai bentuk penghormatan terhadap hasil panen dan keseimbangan alam.
Rangkaian kegiatan festival telah dimulai sejak 23 Maret 2026, diawali dengan berbagai ritual adat yang dipimpin para tetua. Prosesi tersebut meliputi pembersihan kampung hingga pemanggilan roh leluhur yang dilaksanakan secara khidmat sesuai aturan adat yang berlaku.
Selain sebagai wujud rasa syukur, festival ini juga berkaitan erat dengan legenda Dewi Padi, Putri Long Diang Yung, yang diyakini sebagai sosok yang berkorban demi menyelamatkan masyarakat dari kelaparan. Kepercayaan tersebut menjadikan padi tidak sekadar hasil pertanian, tetapi simbol kehidupan yang dihormati dan dijaga.
Pada puncak perayaan, masyarakat menampilkan beragam atraksi seni budaya, mulai dari tarian tradisional, musik sampe, hingga kegiatan adat lainnya yang memperlihatkan kekayaan budaya Dayak Wehea. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda.
Festival Lom Plai juga membuka ruang interaksi antara masyarakat lokal dan pengunjung, di mana warga menyambut tamu dengan keterbukaan sebagai bagian dari nilai kebersamaan yang dijunjung tinggi.
Tradisi ini diharapkan terus terjaga sebagai identitas budaya sekaligus menjadi daya tarik wisata berbasis kearifan lokal di Kutim. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara