SIGI – Festival Tapa Gogoso di Desa Kota Rindau, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi menghadirkan kombinasi kuliner tradisional dan potensi budaya lokal sebagai daya tarik wisata baru. Acara ini menjadi ajang penguatan ekonomi kreatif sekaligus pelestarian tradisi kuliner masyarakat Sigi.
Festival yang digelar pada akhir pekan lalu diikuti Wakil Bupati (Wabup) Sigi Samuel Yansen Pongi, Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) daerah pemilihan Sigi-Donggala Musliman, Kepala Kantor Kementerian Agama Sigi Lutfi Yunus, serta sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan masyarakat setempat.
Festival menampilkan hiburan musik dari Acil The Box dan penampilan Ote Abadi, vokalis band legendaris The Mercy’s, yang berhasil menghidupkan suasana malam itu.
Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae menekankan bahwa Festival Tapa Gogoso bukan sekadar promosi kuliner, tetapi juga bagian dari identitas budaya dengan nilai historis dan kultural yang kuat. “Kalau berbicara pariwisata, bukan hanya soal keindahan alam, tetapi juga budaya yang menjadi identitas daerah. Tapa Gogoso ini adalah bagian dari budaya yang bisa kita kembangkan menjadi kuliner khas,” ujarnya.
Rizal menambahkan rencana pemerintah untuk memperluas festival sehingga melibatkan seluruh desa di Kecamatan Dolo dan masuk dalam kalender event resmi daerah, sehingga berdampak lebih besar pada ekonomi lokal.
Dukungan dari Anggota DPRD Sulteng Musliman juga diberikan agar Festival Tapa Gogoso dapat memiliki regulasi resmi dan keberlanjutan, tidak hanya bersifat seremonial tahunan. “Kami berharap festival ini bisa ditetapkan sebagai salah satu destinasi wisata kuliner Kabupaten Sigi agar terus dilestarikan dan dikembangkan ke depan,” kata Musliman.
Tradisi kuliner ini identik dengan sajian berbahan dasar beras ketan, termasuk varian beras ketan hitam yang menjadi favorit saat Hari Raya Idulfitri. Dengan penguatan konsep festival serta dukungan lintas sektor, Festival Tapa Gogoso diharapkan menjadi ikon pariwisata berbasis budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.[]
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara