SUMBA TIMUR – Proyek pembangunan kawasan budidaya udang terintegrasi di Desa Palakahebi dan Desa Asyura, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur (Sumba Timur), Nusa Tenggara Timur (NTT) masih berada pada tahap awal dengan progres kurang dari 10 persen, meski ditargetkan menjadi model percontohan industri perikanan modern berbasis standar global.
Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budi Daya, TB Haeru Rahayu, mengungkapkan bahwa percepatan pembangunan terus dilakukan untuk mengejar target operasional sebagian kawasan pada tahun mendatang. “Sampai saat ini, proyek baru mencapai kurang dari 10 persen penyerapan dan sedang dalam tahap percepatan pembangunan, dengan rencana rapat selanjutnya bersama konsorsium yang menangani konstruksi. Target proyeksi produksi adalah 40-50 ton per tahun, yang akan diekspor ke negara-negara seperti China dan Amerika Serikat yang memiliki permintaan tinggi akan udang,” ujarnya.
Proyek yang dikenal sebagai kawasan Waingapu National Aquaculture Project (WNAP) ini dirancang sebagai model benchmark budidaya udang terintegrasi dengan penerapan standar operasional prosedur (standard operating procedure/SOP) sesuai best practices. Nilai investasi yang digelontorkan mencapai Rp7,2 triliun, dengan Rp7,1 triliun di antaranya dialokasikan untuk konstruksi dan manajemen konstruksi.
Dengan luas lahan potensial mencapai 2.150 hektare, proyek ini akan dikembangkan di atas area seluas 1.361 hektare. Infrastruktur yang dibangun mencakup intake (saluran masuk air), tandon (waduk penyimpanan air), kawasan budidaya, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), hingga kawasan industri pendukung.
Pembangunan proyek ini melibatkan sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah (Pemda), dan sektor swasta. Sejumlah kementerian dan lembaga turut terlibat, di antaranya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Pertanahan Nasional (BPN), serta Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Selain pembangunan fisik, aspek sumber daya manusia juga menjadi perhatian utama. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP), I Nyoman Radiarta, menyebutkan bahwa kebutuhan tenaga kerja mencakup berbagai sektor mulai dari hulu hingga hilir, termasuk posisi general manager (GM) hingga operator lapangan.
“Pendaftaran tenaga kerja telah dibuka sejak bulan Februari 2026 dan akan ditutup pada akhir April 2026. Sampai saat ini, telah ada sekitar 4.414 orang mendaftar melalui aplikasi khusus, dengan 2.333 orang telah melengkapi persyaratan. Sebagian besar pendaftar berasal dari Kabupaten Sumba Timur, dengan sebagian kecil dari luar kabupaten namun masih dalam wilayah NTT,” terangnya.
Seleksi tenaga kerja dijadwalkan berlangsung pada Mei hingga Juni 2026, meliputi tes kesehatan, wawancara, dan psikotes, dengan pengumuman akhir pada pertengahan Juni. Setelah lolos seleksi, peserta akan mengikuti program Komando Cadangan Strategis (KOMCAT) bersama Kementerian Pertahanan selama dua bulan guna membentuk kesiapan fisik dan mental.
“Setelah KOMCAT, akan dilaksanakan pelatihan kelas khusus selama 8–12 bulan sesuai dengan bidang pekerjaan, dengan kurikulum yang disusun bersama pihak swasta, akademisi, dan mitra terkait,” tuturnya.
Pemerintah berharap proyek ini tidak hanya mendorong peningkatan produksi udang nasional, tetapi juga membuka lapangan kerja baru dan memperkuat daya saing ekspor sektor perikanan Indonesia di pasar global. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara