Longsor Kembali Terjadi, 60 Hektare Lahan Terancam Kekeringan

KUNINGAN – Ancaman gagal panen membayangi puluhan hektare lahan pertanian di Desa Sukamukti, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, setelah longsor kembali merusak sumber mata air utama yang menjadi tumpuan irigasi warga.

Sekitar 50 hingga 60 hektare sawah produktif di kawasan kaki Gunung Ciremai kini terancam kekeringan akibat terputusnya aliran air. Kondisi ini memaksa petani dan warga setempat mengambil langkah cepat dengan melakukan perbaikan mandiri untuk menyelamatkan musim tanam.

Kepala Desa Sukamukti, Nana Mulyana, mengungkapkan bahwa kejadian serupa sebenarnya telah terjadi pada tahun sebelumnya. Namun, upaya penanganan dinilai tidak berlanjut meski sudah dilakukan survei oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan dan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Kuningan. “Tapi setelah itu, tidak ada tindak lanjut. Nihil,” ujarnya.

Akibat kondisi tersebut, warga kembali mengandalkan swadaya untuk memperbaiki kerusakan. Pada 2025 lalu, masyarakat bahkan mengeluarkan dana sekitar Rp30 juta untuk memperbaiki saluran air secara mandiri. “Tahun 2025 kami sampai menghabiskan sekitar Rp30 juta untuk perbaikan mandiri. Swadaya, gotong royong. Karena kalau menunggu, sawah keburu mati,” kata Nana.

Tahun ini, pola yang sama kembali terjadi. Warga langsung bergerak memasang pipa untuk mengalirkan air dari sumber alternatif. Material seperti batu dari Sungai Cilengkrang dan pasir dikumpulkan, sementara tenaga tukang juga dilibatkan untuk mempercepat perbaikan.

Meski demikian, keterbatasan tenaga kerja menjadi kendala tersendiri dalam proses gotong royong. “Kerja bakti tidak bisa dipaksakan. Ada yang kuat hanya satu jam, ada yang lebih. Maka kami juga harus bayar tukang,” tambahnya.

Di tengah kondisi tersebut, harapan bantuan kini diarahkan kepada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan. Kepala dinas tersebut, Wahyu Hidayah, menyatakan pihaknya akan memberikan dukungan sesuai kewenangan yang dimiliki, mengingat dampak longsor langsung memengaruhi sektor pertanian.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah peminjaman pompa air untuk petani sebagai solusi sementara. “Pompa bisa dipinjam hingga enam bulan, bahkan diperpanjang, sambil kita ajukan bantuan ke pusat. Tahun ini ada program perbaikan mata air dari Kementerian Pertanian,” ujarnya.

Namun bagi para petani, keterbatasan waktu menjadi tantangan utama. Tanpa pasokan air yang memadai, risiko gagal panen semakin besar setiap harinya. Kondisi ini menegaskan pentingnya respons cepat dan berkelanjutan dalam penanganan dampak bencana, khususnya di wilayah desa yang bergantung pada sektor pertanian. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Desa Percut Jadi Percontohan Intervensi Stunting Terpadu di Deli Serdang

PDF đź“„DELISERDANG – Desa Percut ditetapkan sebagai kawasan intervensi terpadu untuk penanganan stunting sekaligus penataan …

Banjir 1,8 Meter Rusak Rumah Lansia, Pemkab Brebes Turun Tangan

PDF đź“„BREBES – Banjir bandang Sungai Babakan yang melanda Desa Cikeusal Lor, Kecamatan Ketanggungan, memporak-porandakan …

Desa Cepokorejo Dilanda Kematian Mendadak Sapi

PDF đź“„TUBAN – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali mengancam peternakan sapi di Desa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *