Korban Longsor di TTU Bangun Rumah Sendiri, Bantuan Tak Kunjung Datang

TIMOR TENGAH UTARA – Ketidakpastian bantuan pascabencana masih dirasakan warga Desa Kiuola, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah korban longsor harus membangun kembali rumah secara mandiri tanpa kepastian tindak lanjut dari pemerintah.

Salah satu warga terdampak, Fransiskus Satban, mengaku kesulitan melanjutkan pembangunan rumah barunya setelah melakukan evakuasi mandiri sejak 2025 akibat bencana longsor yang merusak hunian lamanya di RT 002/RW 002 Desa Kiuola.

“Karena kena bencana makanya saya pindah. Susah di atas susah, tetapi saya terpaksa buat satu pondok di seberang kali,” ujarnya.

Saat ini, Fransiskus tengah berupaya membangun pondasi rumah di lokasi baru dengan menggunakan tabungan pribadi. Namun, keterbatasan ekonomi membuat pembangunan tersebut terhenti di tengah jalan.

Sebagai seorang tukang bangunan, ia mengandalkan penghasilan harian yang tidak menentu. Seluruh tabungan yang dimiliki telah habis digunakan untuk membangun pondasi rumah, sehingga ia tidak mampu melanjutkan proses pembangunan.

Fransiskus menjelaskan, keputusan evakuasi diambil setelah kondisi rumah lama semakin membahayakan. Pergeseran tanah menyebabkan lantai rumah retak, bahkan sebagian bangunan seperti dapur, WC, dan kandang ternak telah jatuh ke bantaran kali akibat erosi.

“Waktu itu, lantai di rumah besar sudah mulai pecah-pecah terbelah,” ungkapnya.

Ia menambahkan, rasa cemas terus menghantui keluarganya karena pergerakan tanah masih terasa, terutama saat malam hari. Kondisi tersebut memaksa mereka membongkar sebagian bangunan sebelum akhirnya meninggalkan rumah lama.

Meski telah beberapa kali dilakukan survei oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) TTU bersama instansi terkait, Fransiskus mengaku belum ada realisasi bantuan yang diterima hingga saat ini.

“Tapi sampai hari ini tidak terjawab,” ujarnya.

Padahal, menurutnya, sejumlah korban lain yang terdampak bencana telah mendapatkan bantuan pembangunan rumah dari pemerintah. Ia berharap pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat dapat memberikan perhatian dan bantuan agar keluarganya dapat kembali memiliki hunian yang layak.

Kondisi ini menjadi gambaran tantangan penanganan pascabencana di wilayah desa, khususnya dalam memastikan seluruh korban mendapatkan bantuan yang merata dan tepat waktu. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Banjir 1,8 Meter Rusak Rumah Lansia, Pemkab Brebes Turun Tangan

PDF đź“„BREBES – Banjir bandang Sungai Babakan yang melanda Desa Cikeusal Lor, Kecamatan Ketanggungan, memporak-porandakan …

Desa Cepokorejo Dilanda Kematian Mendadak Sapi

PDF đź“„TUBAN – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali mengancam peternakan sapi di Desa …

Camat Comal Dorong Program CO-SETING dan KEMEDI

PDF đź“„PEMALANG – Pertemuan Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) se-Kecamatan Comal digelar di Desa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *