KEBUMEN – Upaya mengangkat potensi ekonomi berbasis budaya lokal terus dilakukan di Desa Giritirto, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen. Salah satunya melalui pengembangan Kopi Gemplong, yang kini didorong menjadi identitas kawasan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Tradisi mengonsumsi kopi di wilayah perbukitan utara Kebumen telah berlangsung lama. Warga setempat mengolah biji kopi secara tradisional, mulai dari proses sangrai hingga ditumbuk menggunakan alat sederhana sebelum diseduh dan disajikan dalam berbagai kegiatan sosial.
Mantan Kepala Desa (Kades) Giritirto, Teguh Prasetyo, mengatakan pengembangan Kopi Gemplong dimulai sejak 2016 sebagai upaya mempertahankan tradisi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk lokal.
“Gemplong itu artinya tumbuk,” kata Teguh.
Ia menjelaskan, kopi tidak hanya menjadi minuman sehari-hari, tetapi juga memiliki nilai budaya, termasuk dalam tradisi suguh luhur yang berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur.
Menurut Teguh, wilayah utara Kebumen sejak dahulu dikenal sebagai kawasan perkebunan kopi dan cengkeh. Hal itu juga tercatat dalam peta peninggalan Belanda yang menunjukkan dominasi komoditas tersebut di kawasan tersebut.
Pengembangan Kopi Gemplong semakin terstruktur melalui Komunitas Subileng, yang fokus pada pelestarian budaya Jawa. Dari kegiatan komunitas ini, muncul gagasan untuk mengangkat kopi lokal sebagai produk unggulan desa.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) yang memberikan bantuan alat produksi pada 2022.
“Setelah di-support oleh provinsi, Kopi Gemplong ada perubahan pengolahan khususnya pada proses sangrai. Untuk menyamakan rasa, sekarang sudah mengikuti perkembangan, ada yang menggunakan alat atau manual (nggemplong/menumbuk),” lanjut Teguh.
Saat ini, terdapat ratusan petani kopi di Desa Giritirto dengan luas lahan sekitar 45 hektare, baik di lahan milik Perhutani maupun milik pribadi. Namun, serapan hasil panen oleh pelaku usaha lokal masih terbatas, yakni sekitar satu kuintal per bulan.
Sebagian petani memilih menjual hasil panen ke tengkulak di luar daerah. Hal ini menjadi tantangan dalam penguatan rantai pasok lokal sekaligus pengembangan ekonomi desa berbasis komoditas kopi.
Teguh berharap adanya penguatan dukungan, termasuk penyediaan gudang penyimpanan melalui koperasi desa, guna menampung hasil panen petani serta memperluas pemasaran produk.
Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, Kopi Gemplong diharapkan mampu memperkuat branding Karanggayam sebagai sentra kopi sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara