Bertahan di Tengah Krisis, Segelintir Perajin Jambeyan Lawan Kepunahan

REMBANG – Keberlangsungan kerajinan sapu sabut kelapa di Desa Jambeyan, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, terancam punah seiring menyusutnya jumlah perajin dan minimnya regenerasi dari kalangan generasi muda.

Data Pemerintah Desa (Pemdes) Jambeyan menunjukkan, dari ratusan perajin yang pernah aktif satu hingga dua dekade lalu, kini hanya tersisa enam orang yang masih bertahan memproduksi sapu sabut kelapa pada 2026.

Kepala Desa (Kades) Jambeyan Mohamad Sujono menyebut, penurunan drastis ini dipicu oleh keterbatasan bahan baku sabut kelapa serta menurunnya minat generasi muda untuk melanjutkan usaha tradisional tersebut.

“Dulu waktu saya kecil, Jambeyan adalah desa sentra kerajian sapu sabut kelapa. Mayoritas warga di sini adalah pengrajin sapu sabut kelapa. Per hari ini, pengrajin yang masih survive tinggal 6 orang. Bahan baku susah. Dulu Jambeyan banyak pohon kelapa sekarang hampir tidak ada terserang hama,” jelasnya.

Ia menambahkan, serangan hama kumbang atau wawung menjadi penyebab utama berkurangnya pohon kelapa dalam satu dekade terakhir. Dampaknya, para perajin harus mencari bahan baku dari luar wilayah Kecamatan Sedan, yang berimbas pada meningkatnya biaya produksi.

Selain faktor bahan baku, perubahan pola pikir generasi muda juga mempercepat penurunan jumlah perajin. Menurut Sujono, banyak anak muda enggan melanjutkan usaha keluarga meskipun secara ekonomi masih menjanjikan.

“Dulu bukan hanya sapu, tapi juga tali berbahan serabut kelapa juag diproduksi warga sini. Sayangnya, banyak anak muda ditawari orang tuanya meneruskan kerajinan itu tidak mau. Padahal marketnya bagus, rata-rata per pengrajin bisa menghasilkan keuntungan besih Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu per hari,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, sebagian kecil perajin masih berupaya mempertahankan usaha. Salah satunya Athoirrohman yang mengembangkan produksi dengan melibatkan puluhan pekerja dan menjaga kualitas produk agar tetap bersaing di pasar.

“Sapu sini dikenal karena kualitasnya, awet kuat namun harga terjangkau. Jika sudah di pasar, harga per biji antara Rp 3000 sampai dengan Rp 7000. Bergantung model dan kualitas bahannya,” katanya.

Produk sapu sabut kelapa dari Jambeyan diketahui telah dipasarkan hingga ke sejumlah daerah seperti Semarang dan Lamongan. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pasar masih terbuka, meskipun jumlah perajin terus menurun.

Perajin lainnya, Khayatun, juga tetap bertahan mempertahankan produksi meski usia tidak lagi muda. Ia bersama keluarganya masih mampu menghasilkan puluhan sapu setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.

“Tiap hari rata-rata 50 buah bisa saya hasilkan. Hasil produksi dikirim ke berbagai pasar sekitar Sedan. Hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” paparnya.

Warga berharap pemerintah dapat hadir memberikan solusi, khususnya dalam penanganan hama dan penyediaan bahan baku, agar kerajinan sapu sabut kelapa tetap bertahan sebagai identitas ekonomi desa sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Banjir 1,8 Meter Rusak Rumah Lansia, Pemkab Brebes Turun Tangan

PDF đź“„BREBES – Banjir bandang Sungai Babakan yang melanda Desa Cikeusal Lor, Kecamatan Ketanggungan, memporak-porandakan …

Desa Cepokorejo Dilanda Kematian Mendadak Sapi

PDF đź“„TUBAN – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali mengancam peternakan sapi di Desa …

Camat Comal Dorong Program CO-SETING dan KEMEDI

PDF đź“„PEMALANG – Pertemuan Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) se-Kecamatan Comal digelar di Desa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *